Panitia UTBK di Gorontalo Lacak Anomali Peserta Seleksi

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Eduart Wolok dan tim panitia saat konferensi pers Selasa (29/4). GAMBAR: SNPMB/Youtube

Darilaut – Pelaksanaan  Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) sesi 1 hingga sesi 12 berlangsung di 74 pusat UTBK perguruan tinggi negeri (PTN) dan 32 sub pusat UTBK PTN.

Selama pelaksanaan ujian tersebut, panitia menemukan sejumlah kecurangan, salah satunya di Gorontalo.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok,  menjelaskan lokasi kecurangan terjadi pada pusat UTBK atau asal SMA peserta dan pilihannya juga di provinsi lain atau pulau lainnya.

”Contoh yang bersangkutan lulusan SMA di Semarang, pilihan prodi (program studi) di UTBK memilih UI dan UGM. Ujiannya di Medan atau daftar ujian di Gorontalo. Apakah ini salah, tidak salah. Selama bisa dibuktikan tidak salah,” kata Eduart saat konferensi pers, pada Selasa (29/4).

Contoh di Gorontalo ada yang seperti ini, ”setelah kami lacak ternyata yang bersangkutan itu lulusan dari pondok pesantren yang ada di Jawa, kemudian ada semacam, setelah lulus ada satu tahun itu wajib untuk mengabdi,” ujarnya.

Peserta ini mengambil pengabdian di Gorontalo, mengajar di pondok di Gorontalo, ketika pelaksanaan UTBK mendaftar di Gorontalo dan ujian di Gorontalo, meskipun pilihannya ada di Jawa.

”Tapi yang anomali seperti ini ditempat lain begitu kita dapatkan dan kita umumkan di hari kedua dan ketiga sudah tidak datang,” ujar Eduart.

Eduart mengatakan setelah dilacak lagi komputer yang seharusnya menjadi bagian yang datang itu, yang bermasalah tadi.

”Disinyalir ada keterlibatan jaringan yang memanfaatkan UTBK untuk kepentingan bisnis tertentu dan sebagainya,” ujarnya. Di pusat-pusat UTBK sudah melibatkan aparat kepolisian untuk menindaklanjuti ini.

Eduart juga menguraikan nama-nama anomali ada 4000 lebih yang sudah disebarkan ke pusat UTBK. Nama-nama tersebut perlu untuk diperhatikan. Panitia sejak awal sudah menentukan area merah, merah muda dan kuning.

”Dapat 13 kecurangan di pusat UTBK karena sudah ditandai sejak awal,” kata Eduart.  Ada indikasi terkait kecurangan dan model-model kecurangan yang didapat.

”Ternyata dengan langkah cepat dari teman-teman panitia di pusat UTBK, seperti di Jember antisipasi dari panitia lokal yang luar biasa… ternyata banyak nama-nama yang anomali itu di sesi-sesi berikutnya sudah tidak hadir.”

Eduart mengatakan ada kejadian di Bandung ketika sedang antrian, begitu nama dipanggil panitia, tiba-tiba yang bersangkutan langsung lari.

“Melibatkan jaringan dugaan yang cukup kuat dan sekali lagi apakah itu masuk dalam tindak pidana atau kejahatan, biarlah aparat yang berwajib,” ujarnya.

Untuk sanksi, menurut Eduart, bukan hanya peserta tahun ini. ”Kami akan coba setelah ini dengan teman-teman perguruan tinggi untuk mengecek data mahasiswa tahun lalu, bahkan tahun sebelumnya apakah ada,” kata Eduart.

Panitia SNPMB memiliki data mahasiswa, seperti kartu UTBK. Jangan ada ketidakcocokan dengan kartu UTBK. Untuk kasus seperti ini dapat didiskualifikasi.

”Kami mengimbau kepada peserta, anak-anak kami, yang sudah terlanjur, ada baiknya melapor daripada ditemukan. Kalau melapor kita akan memikirkan sanksi lainnya, sambil memberikan informasi lanjutan,” ujarnya.

Exit mobile version