Darilaut – Sebanyak 530 peserta dari 46 negara mendapat pembekakan kesiapsiagaan menghadapi El Niño.
Pembekalan diberikan oleh UNESCO bagi 500-an profesional di bidang kebudayaan dan sumber daya melalui webinar regional inisiatif “Culture × El Niño” (Kebudayaan × El Niño).
Peserta dari 46 negara yang mengikuti kegiatan ini, termasuk 11 Negara Berkembang Kepulauan Kecil (Small Island Developing States).
Kegiatan ini ditujukan bagi para profesional di bidang kebudayaan dan warisan budaya, serta otoritas nasional di Amerika Latin dan Karibia, Afrika, dan kawasan Asia-Pasifik.
Para peserta—dua pertiganya adalah perempuan—mewakili otoritas kebudayaan nasional, situs Warisan Dunia (baik alam maupun budaya), museum, penyelenggara kegiatan budaya, universitas, serta organisasi masyarakat sipil.
Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, mengingatkan bahwa fenomena El Niño tahun 2026-2027 akan memengaruhi setiap aspek mandat UNESCO, seraya menekankan pentingnya mengubah peringatan dini menjadi tindakan dini demi ketahanan yang lebih kuat.
Direktur Entitas Kebudayaan dan Keadaan Darurat (Culture and Emergencies Entity) UNESCO, Krista Pikkat, menjelaskan bagaimana El Niño akan berdampak di tingkat lokal masih belum dapat dipastikan. Peristiwa yang sama bisa mendatangkan hujan lebat dan tanah longsor di satu wilayah, “sementara di wilayah lain justru memicu kekeringan dan kebakaran”.
Namun, ”ketidakpastian bukanlah alasan untuk berdiam diri,” ujarnya.
Sebaliknya, ini adalah alasan untuk bersiap. Pikkat mengatakan kesiapsiagaan adalah aspek di mana kita dapat memberikan dampak terbesar: langkah-langkah yang diambil sebelum bencana terjadi akan melindungi masyarakat sekaligus warisan budaya, dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan biaya penanganan setelah bencana.
Inisiatif “Culture × El Niño” diluncurkan oleh UNESCO untuk membantu berbagai negara bersiap menghadapi potensi dampak El Niño terhadap sektor kebudayaan.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai perangkat yang sudah tersedia, sekaligus memperkenalkan instrumen penilaian mandiri (self-assessment tool) baru untuk membantu mengidentifikasi langkah-langkah kesiapsiagaan guna melindungi kebudayaan dalam segala bentuknya, sebelum puncak bahaya yang terkait dengan El Niño terjadi.
Nara sumber dalam kegiatan ini berasal dari UNESCO serta mitra-mitra utama, termasuk Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR), ICCROM, ICOM, dan Smithsonian Institution. Mereka berbagi pandangan regional serta keahlian dalam mengintegrasikan sektor kebudayaan ke dalam sistem peringatan dini.
El Niño Tak Bisa Dihentikan
Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, mengatakan, kita memang tidak bisa menghentikan El Niño, tetapi kita bisa mencegah banyak dampak terburuknya terhadap manusia.
”Mari kita bersatu dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal,” kata Celeste Saulo Celeste Saulo, dalam konferensi pers bersama Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, pada Rabu 21 Oktober.
Asia Tenggara: Kondisi yang lebih hangat dan kurangnya curah hujan meningkatkan risiko paparan panas serta memberikan tekanan tambahan pada sektor pertanian dan pasokan air—seperti meningkatnya risiko kebakaran hutan dan kabut asap yang sudah mulai terlihat saat ini.
Afrika Timur: Kondisi yang lebih basah dari biasanya kemungkinan besar akan terjadi di beberapa wilayah selama musim hujan bulan Oktober–Desember, yang meningkatkan kekhawatiran akan curah hujan tinggi dan banjir.
Afrika Bagian Selatan: Meningkatnya risiko kondisi yang lebih kering dapat berdampak pada produksi tanaman pangan, ketersediaan air, dan mata pencaharian mulai bulan November (yang biasanya merupakan awal musim hujan).
Benua Amerika: Curah hujan yang lebih tinggi diperkirakan terjadi di wilayah barat laut Amerika Serikat dan bagian selatan Amerika Selatan bagian barat—kita semua telah melihat gambaran banjir yang terjadi di Chili dan cekungan Sungai Paraná. Amerika Utara dan wilayah utara Karibia juga diperkirakan akan mengalami curah hujan di atas normal. Sebaliknya, terdapat peningkatan risiko kekeringan di sebagian wilayah Amerika Tengah, Karibia bagian selatan, dan wilayah Amazon.
Fenomena El Niño akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun 2026, namun dampaknya akan terus terasa jauh setelah itu. Bersiap menghadapi puncak El Niño untuk mencegah dampak terburuk terhadap manusia.
