Darilaut – Hasil penelitian menunjukkan masih banyak masyarakat yang mempercayai mitos dan pemahaman rendah mengenai penyakit Tuberkulosis (TB) di Gorontalo.
Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo tersebut telah diterbitkan di Jambura Nursing Journal Vol 8, No 1 2026.
Studi yang dilakukan oleh Nanang Roswita Paramata dan ST Rahma dengan Lokasi di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, menunjukkan bahwa meskipun sebagian masyarakat memiliki pengetahuan dasar tentang Tuberkulosis, masih banyak yang mempercayai mitos dan memiliki persepsi keliru mengenai penularan penyakit ini.
Tuberkulosis mungkin terdengar seperti penyakit lama, tetapi ancamannya masih sangat nyata. Di tengah kemajuan teknologi kesehatan, Indonesia justru masih menghadapi beban besar penyakit menular ini. Bahkan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai negara dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi di dunia, setelah India.
Fakta ini menjadi alarm serius bagi kesehatan nasional. Setiap tahun, ratusan ribu masyarakat Indonesia didiagnosis menderita TB, dan banyak di antaranya terlambat mendapatkan pengobatan. Ironisnya, persoalan utama bukan hanya soal akses layanan kesehatan, tetapi juga rendahnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini.
Dari 50 responden yang diteliti, sebanyak 54 persen memiliki pengetahuan pada kategori “cukup”, 38 persen pada kategori “baik”, dan 8 persen masih berada pada kategori “kurang”.
Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sebenarnya sudah pernah mendengar atau mengetahui informasi dasar tentang TB, tetapi pemahaman mereka belum sepenuhnya benar.
Masalah terbesar justru terletak pada miskonsepsi. Sebagian responden masih meyakini bahwa TB dapat menular melalui berbagi alat makan atau kontak sosial biasa. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa penderita TB sebaiknya dijauhi untuk menghindari penularan.
Padahal, secara medis, TB paru menular terutama melalui droplet atau percikan udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan lewat sendok, piring, atau berjabat tangan. Kesalahpahaman semacam ini bukan hal sepele.
Ketika masyarakat percaya bahwa penderita TB harus dihindari, dampak yang muncul bukan hanya rasa takut, tetapi juga stigma sosial. Pasien TB bisa mengalami pengucilan, rasa malu, bahkan memilih menyembunyikan penyakitnya karena takut dicap negatif oleh lingkungan sekitar.
Di sinilah masalah menjadi lebih rumit. Stigma dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Semakin lama penyakit tidak terdeteksi, semakin besar peluang penularan kepada anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
Dengan kata lain, stigma justru bisa memperparah penyebaran TB, bukan mencegahnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan berperan besar terhadap kualitas pemahaman masyarakat. Sebanyak 66 persen responden berasal dari kelompok pendidikan rendah, yaitu tidak sekolah hingga SMP. Kondisi ini dapat memengaruhi literasi kesehatan, termasuk kemampuan memahami informasi medis yang benar.
Ini menjadi tantangan besar bagi program pengendalian TB di Indonesia. Selama ini edukasi kesehatan sering disampaikan dengan pendekatan formal yang belum tentu mudah dipahami semua kalangan. Bahasa medis yang terlalu teknis, penyuluhan satu arah, atau materi edukasi yang monoton sering kali gagal menjangkau kelompok masyarakat dengan literasi kesehatan terbatas. Karena itu, edukasi TB perlu berubah.
Masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: media visual yang sederhana, video animasi, kampanye berbasis komunitas, hingga komunikasi menggunakan bahasa daerah. Edukasi yang efektif bukan hanya memberi informasi, tetapi juga meluruskan mitos yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Secara nasional, temuan penelitian ini menjadi pengingat bahwa perang melawan TB tidak cukup hanya dengan menyediakan obat dan fasilitas kesehatan. Perlawanan terhadap TB juga harus dilakukan melalui perang melawan stigma, hoaks, dan kesalahpahaman.
Masyarakat perlu memahami satu hal penting: penderita TB bukan ancaman sosial yang harus dijauhi. Mereka adalah pasien yang membutuhkan pengobatan, dukungan, dan lingkungan yang suportif agar bisa sembuh total. Pesan penting dari penelitian ini sederhana namun sangat relevan: TB bukan aib dan penderita TB bukan orang yang harus dikucilkan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan Indonesia mengendalikan tuberkulosis tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit atau tenaga kesehatan, tetapi juga oleh seberapa baik masyarakat memahami penyakit ini. Melawan TB bukan sekadar urusan medis, tetapi juga urusan empati, edukasi, dan solidaritas sosial.
