Darilaut – Pemerintah diharapkan terus menjamin Alat Pelindung Diri (APD) yang terstandar dan selalu tersedia bagi tenaga medis saat mengobati dan merawat pasien Covid-19.
“APD yang lengkap ini dari atas sampai dengan bawah. Jadi, betul-betul harus tertutup,” kata pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia wilayah Jakarta Utara, Nurdiansyah, Minggu (19/4).
Nurdiansyah meminta teman-temannya sesama perawat mendapatkan APD saat bekerja. Selama menangani pasien di rumah sakit, banyak teman-teman perawat yang positif tertular Covid-19.
Menurut Nurdiansyah, tidak hanya pakaian yang aman, tetapi harus juga mengenakan masker N95 dan kacamata atau google. Hal ini sudah sesuai dengan standar keamanan yang tinggi, sehingga terhindar dari penularan virus corona.
Nurdiansyah mengatakan, bersama teman-temannya telah bekerja keras dari pagi hingga malam. Istirahat cukup sangat dibutuhkan oleh perawat.
“Jadi kalau bisa pemerintah harapannya ada waktu memang kita bekerja tidak seperti biasa, misalnya 14 hari masuk, 14 hari libur,” katanya.
Dalam memonitor pasien, pihak rumah sakit menggunakan kamera pemantau. Di setiap kamar pasien dilengkapi dengan fasilitas tersebut.
“Nah, di sini, kita bisa melihat kondisi pasien dari monitor. Kita bicara ke pasien lewat monitor, ketika misalnya pasien ada butuh apa, nanti ketika masuk, baru kita lakukan perawatan,” ujarnya.
Nurdiansyah menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak, khususnya pemerintah, karena menyediakan penginapan sebagai tempat transit atau beristirahat.
Untuk penanganan pasien yang terinfeksi Covid-19 memiliki risiko bagi tenaga medis, baik dokter maupun perawat.
Upaya melawan Covid-19 dengan pencegahan dan garda terdepan untuk pencegahan yakni masyarakat.
“Kita, perawat, tenaga kesehatan, ada di lini paling belakang, ketika sudah terpaksa terinfeksi, karena memang kita sudah melakukan pencegahan dengan ketat tapi masih terinfeksi, itu. Jadi, masyarakat mari kita sama-sama,” kata Nurdiansyah, saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta.
Meski sudah bekerja pagi hingga malam, sejumlah tenaga medis mendapat stigma negatif di lingkungan tempat tinggalnya karena menangani pasien yang terinfeksi virus corona, Covid-19. Tenaga medis ini ada yang diusir dari rumah kontrakan hingga anggota keluarga dikucilkan tetangga.*
