Darilaut – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan puncak El Niño akan terjadi bulan Desember 2026.
Saat ini suhu permukaan laut lebih tinggi dibandingkan tahun 2023, ketika peristiwa El Niño yang kuat juga sedang berkembang.
Meningkatnya panas di lautan menimbulkan kekhawatiran bagi sektor perikanan. Risiko terjadinya gelombang panas laut (marine heatwaves) dan pemutihan karang yang parah memicu kekhawatiran, tidak hanya terkait dampak lingkungan, tetapi juga dampaknya terhadap pendapatan masyarakat nelayan dan industri perikanan secara lebih luas.
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi dan nilai ekonomi terbesar di Bumi. Namun ekosistem ini menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Peningkatan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperatures/SST) selama gelombang panas laut—terutama yang berkaitan dengan peristiwa El Niño–Southern Oscillation (ENSO)—menyebabkan pemutihan karang massal. Kondisi ini mengganggu hubungan simbiosis antara karang dan alga simbionnya (Symbiodiniaceae).
Gelombang panas laut yang dikaitkan dengan peristiwa ENSO merupakan pemicu utama pemutihan karang massal (mass coral bleaching) yang mengancam ekosistem terumbu karang secara global.
Sejumlah peneliti telah mendokumentasikan peristiwa pemutihan karang massal pada Desember 2024. Lokasi ini berada di kawasan terumbu karang Yenbuba, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Indonesia, menyusul peristiwa ENSO 2024.
Para peneliti Eghbert Elvan Ampou, Frensly Demianus Hukom, Augy Syahailatua, Gino V. Limmon, Hendrik A. W. Cappenberg, Jemmy Souhoka, Ana Setyastuti, Ixchel Feibi Mandagi, Yopi Riupassa, Zheng Zhang, Ziming Yuan, Lin He, Jiao Cheng & Min Hui, telah mempublikasikan hasil studi tersebut di jurnal Nature.com/scientificreports, Mei 2026.
Studi dengan judul “Post-ENSO 2024 mass bleaching and early signs of resilience in Pachyseris speciosa dominated reefs of Raja Ampat, Indonesia” menggunakan metode Underwater Visual Census (sensus visual bawah air) yang terstandarisasi.
Tim peneliti menemukan bahwa >70% koloni karang dominan Pachyseris speciosa mengalami pemutihan parah selama puncak tekanan termal.
Survei lanjutan pada November 2025 menunjukkan pemulihan yang signifikan; kurang dari 20% koloni P. speciosa yang masih menunjukkan tanda-tanda pemutihan, dan terjadi repigmentasi (pewarnaan kembali) secara luas di lereng terumbu karang pada kedalaman sekitar 20–30 meter.
Pemulihan cepat ini—yang didokumentasikan melalui survei kuantitatif berpasangan dan bukti fotografis—menunjukkan bahwa di antara taksa yang diamati, spesies karang dominan inilah yang menunjukkan pemulihan tercepat dan paling nyata setelah mengalami tekanan termal akut.
Meski demikian, menurut peneliti, mekanisme penyebabnya belum dapat dipastikan, dan pemulihan ini tidak terjadi secara merata pada semua taksa.
”Temuan kami menekankan pentingnya mengidentifikasi serta melindungi kawasan yang memiliki potensi ketahanan tinggi (resilience hotspots), seperti Raja Ampat, melalui strategi konservasi yang terarah di tengah perubahan iklim,” tulis peneliti.
Selain itu, menurut peneliti, diperlukan pemantauan jangka panjang dan studi mendalam mengenai mekanisme yang mendasarinya.
Coral Triangle (Segitiga Karang) diakui sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia, mencakup wilayah Raja Ampat di Indonesia bagian timur. Meskipun kawasan ini memiliki keanekaragaman terumbu karang yang luar biasa, dalam beberapa tahun terakhir, Raja Ampat telah mengalami peningkatan kejadian pemutihan karang.
Beberapa terumbu karang di wilayah ini menunjukkan ketahanan yang tidak terduga terhadap tekanan termal, yang kemungkinan disebabkan oleh adaptasi lokal, mekanisme aklimatisasi, atau kondisi lingkungan yang mendukung. Memahami pola ketahanan ini sangat penting untuk memprediksi perkembangan terumbu karang di masa depan serta menerapkan strategi konservasi yang efektif.
Peristiwa ENSO tahun 2024 memberikan kesempatan krusial untuk mengamati respons karang terhadap tekanan termal ekstrem di salah satu sistem terumbu karang dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Studi ini mendokumentasikan peristiwa pemutihan massal pada Desember 2024 dan mengevaluasi proses pemulihan yang teramati pada November 2025.
Dari perspektif konservasi, mengidentifikasi dan melindungi kawasan yang berpotensi memiliki ketahanan tinggi, seperti Raja Ampat, sangatlah penting bagi keberlangsungan terumbu karang di tengah perubahan iklim.
Dalam studi ini para peneliti memberikan catatan bahwa temuan ini didasarkan pada satu peristiwa pemutihan di satu lokasi saja. Karena itu, pengambilan keputusan dalam pengelolaan sebaiknya didasarkan pada studi yang direplikasi di berbagai lokasi.
Strategi pengelolaan harus memprioritaskan pengurangan stresor lokal (seperti penangkapan ikan berlebih dan polusi) guna memaksimalkan potensi pemulihan alami, sembari menerapkan pendekatan yang adaptif terhadap iklim, seperti evolusi terbantu (assisted evolution) atau pembiakan selektif untuk menghasilkan karang yang toleran terhadap suhu tinggi.
