Pendinginan Bertanggung Jawab Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca Global

Air conditioner (AC) salah satu produk pendinginan yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca global. FOTO: DARILAUT.ID,

Darilaut – Pendinginan (Cooling) seperti air conditioner (AC), deep freezer dan lemari es, bertanggung jawab terhadap lebih dari tujuh persen emisi gas rumah kaca global. Sementara permintaan terhadap pendinginan diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050.

Hal ini merupakan berita meresahkan bagi planet bumi yang akan mencapai suhu hangat 3°C pada akhir abad ini, dua kali lipat dari Perjanjian Paris, tujuan paling ambisius di dunia.

“Banyak orang tidak menyadari bahwa meningkatnya permintaan alat pendingin merupakan pendorong utama perubahan iklim dan juga sangat penting bagi kesehatan manusia, kemakmuran ekonomi, dan ketahanan pangan,” kata Lily Riahi, Koordinator Global Cool Coalition, seperti dikutip dari Unep.org.

“Saat kita menghadapi tekanan panas dan guncangan iklim yang semakin meningkat, menjaga suhu tetap sejuk sangatlah penting, terutama bagi kelompok yang paling rentan.”

Pekan ini, ketika para pemimpin berkumpul untuk Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP28), mereka akan didesak untuk menandatangani pakta untuk memperluas akses terhadap berbagai layanan dan teknologi pendingin berkelanjutan, sebuah dorongan yang muncul menjelang tahun 2023 yang siap menjadi tahun terpanas dalam sejarah.

Ikrar Pendinginan Global (Global Cooling Pledge), yang dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang menjadi tuan rumah COP28, dirancang untuk membuat produk-produk seperti AC, deep freezer, dan rumah-rumah dengan peredam panas menjadi lebih terjangkau. Terutama di negara-negara berkembang, sekaligus mengekang emisi yang menyebabkan pemanasan global dari sektor pendingin yang luas.

Mengapa pendinginan menjadi masalah?

Pendinginan itu sendiri tidak menjadi masalah. Pendinginan di dalam rumah membawa kelegaan besar bagi masyarakat di tengah meningkatnya suhu dan semakin seringnya gelombang panas, yang merupakan dua produk sampingan dari perubahan iklim. Pendinginan juga penting untuk ketahanan pangan global dan pengiriman vaksin.

Namun sistem pendingin mekanis yang ada saat ini, seperti penyejuk udara (AC) dan lemari es, sering kali menghabiskan banyak energi dan banyak menggunakan zat pendingin yang dapat menghangatkan bumi.

Misalnya, R-410a, bahan pendingin umum untuk Acs, 1.430 kali lebih kuat menghasilkan gas rumah kaca dibandingkan karbon dioksida.
Pemodelan baru Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan bahwa antara tahun 2022 dan 2050, berdasarkan skenario bisnis seperti biasa, pendinginan diperkirakan akan menambah 132 gigaton gas rumah kaca ke atmosfer.

Terlebih lagi, tanpa mekanisme pendanaan baru, akses terhadap alat pendingin akan tetap mahal bagi miliaran orang di negara-negara berkembang.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan pendingin. Masyarakat kini semakin mampu membeli AC – meskipun sering kali tidak efisien.

Pada saat yang sama, dunia sedang mengalami urbanisasi, dengan banyak orang yang pindah ke gedung-gedung dengan desain buruk dan lingkungan yang memerangkap panas, sehingga AC menjadi sangat penting.

Selain itu, seiring dengan semakin umumnya gelombang panas terik, semakin banyak orang yang beralih ke AC. Sistem pendingin dan rantai dingin juga diperluas untuk mengangkut makanan segar ke konsumen perkotaan.

Dampak Pada Pendingin

Hampir 2,5 miliar orang tidak memiliki akses terhadap solusi pendinginan yang ramah iklim – sebagian besar tinggal di Afrika dan Asia. Kurangnya pendinginan dan suhu tinggi menghambat produktivitas ekonomi. Komunitas pertanian dan perikanan di negara-negara Selatan tidak memiliki peralatan pendingin dan rantai pendingin yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan mereka.

Kurangnya pendinginan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, dan bahkan kematian, selama gelombang panas. Perempuan, anak-anak, orang lanjut usia dan penyandang disabilitas sangat rentan terhadap hal ini.

Pendinginan juga membebani jaringan listrik selama periode panas sehingga menyebabkan biaya lebih tinggi dan, bagi banyak orang, seringnya gangguan listrik, yang sangat berbahaya selama gelombang panas.

Ada banyak solusi namun harus dilakukan secara harmonis agar dapat memberikan manfaat cepat bagi planet ini.

Prioritasnya harus mencakup pengurangan suhu di perkotaan dan bangunan melalui pendinginan pasif, alam, dan desain yang lebih baik. Meningkatkan efisiensi peralatan dan sistem pendingin dengan cepat, meningkatkan laju peralihan ke bahan pendingin ramah iklim; dan meningkatkan akses terhadap rantai pendingin dan dingin.

Perubahan ini mendasari rekomendasi dari Global Cooling Pledge (Ikrar Pendinginan Global).

Efisiensi Peralatan

Selama beberapa dekade, industri dan pemerintah telah meningkatkan standar efisiensi peralatan seperti AC, lemari es, dan kipas angin.
Selain itu, mereka juga menggunakan pelabelan efisiensi dan instrumen kebijakan lainnya untuk menciptakan selera masyarakat terhadap peralatan yang lebih efisien.

Saat ini, AC yang hemat energi belum tentu lebih mahal dibandingkan AC yang berefisiensi rendah. Terlebih lagi, peralatan hemat energi berarti tagihan energi yang lebih rendah bagi konsumen – sehingga menghemat uang mereka seiring berjalannya waktu.

Banyak tindakan pendinginan pasif yang murah atau tanpa biaya, seperti perubahan orientasi dan tata letak bangunan, penggunaan ventilasi dan peneduh alami, dan cat reflektif.

Solusi ini adalah penyelamat hidup bagi mereka yang tidak mampu membeli AC. Langkah-langkah tambahan, seperti insulasi yang lebih baik, dinding yang lebih tebal, dan jendela yang lebih baik, mungkin membutuhkan biaya lebih besar namun harganya masih rendah dibandingkan dengan nilai bangunan secara keseluruhan.

Exit mobile version