Risiko ini semakin tinggi pada anak usia dini, mengingat sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara optimal sehingga lebih mudah terinfeksi dan berpotensi mengalami gejala yang lebih berat.
Selain itu, ”lingkungan fisik tempat tinggal” juga menjadi determinan penting, ”terutama pada kawasan padat penduduk dengan kondisi hunian yang kurang sehat,” ujar Nurul.
Kondisi rumah yang padat, sirkulasi udara yang buruk, tingkat kelembapan yang tinggi, serta paparan asap rokok menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penularan tuberkulosis.
Anak-anak yang secara fisiologis lebih rentan menjadi kelompok yang paling terdampak dalam kondisi tersebut.
Penelitian juga mencatat bahwa karakteristik biologis dan imunologis anak, seperti usia dan status imunitas, berperan besar dalam menentukan tingkat kerentanan terhadap infeksi tuberkulosis.
Selain faktor lingkungan dan biologis, dinamika sosial serta perilaku keluarga turut memengaruhi kejadian tuberkulosis pada anak.
Pengetahuan keluarga yang rendah mengenai TB dan praktik kesehatan yang kurang baik terbukti meningkatkan risiko penularan.
Menurut Nurul pengetahuan orang tua tentang gejala, cara penularan, serta pencegahan tuberkulosis memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian tuberkulosis pada anak di lingkungan rumah tangga.




