Darilaut – Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengingatkan penyakit tuberkulosis (TB) dapat Menyerang siapa Saja, termasuk anak-anak. Untuk itu, peran keluarga dan lingkungan rumah penting sebagai upaya pencegahan.
Hingga kini tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global yang serius, termasuk bagi kelompok anak.
Data global menunjukkan bahwa pada tahun 2023, tuberkulosis diperkirakan menyebabkan sekitar 1,25 juta kematian di seluruh dunia. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, termasuk anak-anak.
Di Indonesia, data periode 2014–2019 menunjukkan peningkatan signifikan dalam capaian penemuan kasus tuberkulosis anak. Sementara pada periode 2019–2023 grafik kasus cenderung fluktuatif, menandakan bahwa tuberkulosis anak masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Peneliti Fakultas Kedokteran UNG, Nurul Fauziah Sabir menjelaskan bahwa tuberkulosis pada anak memerlukan perhatian khusus mengingat peran anak sebagai generasi penerus bangsa.
Nurul bersama tim peneliti melakukan kajian berbasis riset terhadap tujuh jurnal penelitian yang dilakukan di Indonesia. Tim peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang berperan dalam terjadinya infeksi tuberkulosis pada anak.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kontak erat dengan penderita tuberkulosis dewasa, khususnya yang terjadi di dalam lingkungan rumah. Hal ini merupakan faktor risiko paling dominan terhadap kejadian tuberkulosis pada anak.
Risiko ini semakin tinggi pada anak usia dini, mengingat sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara optimal sehingga lebih mudah terinfeksi dan berpotensi mengalami gejala yang lebih berat.
Selain itu, ”lingkungan fisik tempat tinggal” juga menjadi determinan penting, ”terutama pada kawasan padat penduduk dengan kondisi hunian yang kurang sehat,” ujar Nurul.
Kondisi rumah yang padat, sirkulasi udara yang buruk, tingkat kelembapan yang tinggi, serta paparan asap rokok menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penularan tuberkulosis.
Anak-anak yang secara fisiologis lebih rentan menjadi kelompok yang paling terdampak dalam kondisi tersebut.
Penelitian juga mencatat bahwa karakteristik biologis dan imunologis anak, seperti usia dan status imunitas, berperan besar dalam menentukan tingkat kerentanan terhadap infeksi tuberkulosis.
Selain faktor lingkungan dan biologis, dinamika sosial serta perilaku keluarga turut memengaruhi kejadian tuberkulosis pada anak.
Pengetahuan keluarga yang rendah mengenai TB dan praktik kesehatan yang kurang baik terbukti meningkatkan risiko penularan.
Menurut Nurul pengetahuan orang tua tentang gejala, cara penularan, serta pencegahan tuberkulosis memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian tuberkulosis pada anak di lingkungan rumah tangga.
Temuan ini menegaskan bahwa kapasitas keluarga dalam mengenali, mencegah, dan merespons gejala tuberkulosis menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan, khususnya di tingkat rumah tangga.
Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan penguatan strategi skrining kontak serumah, peningkatan edukasi perilaku hidup sehat, serta perbaikan kondisi lingkungan rumah sebagai bagian integral dari program nasional pengendalian tuberkulosis.
Peneliti juga berharap masyarakat dapat lebih waspada terhadap berbagai faktor risiko penularan tuberkulosis pada anak.
Peran aktif tenaga kesehatan dinilai sangat penting dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar pengetahuan mengenai tuberkulosis anak meningkat dan upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih optimal.
