Darilaut – Peristiwa Upwelling Ekstrem (Extreme Upwelling Event) di Laut Alor dapat menjadi daya tarik wisata ilmiah berbasis konservasi.
Selain dampak ekologis, fenomena laut yang tak biasa terjadi di perairan Selat Mulut Kumbang, Alor Kecil, Nusa Tenggara Timur tersebut, memiliki potensi ekonomi dan wisata yang besar.
Kejadian langka ini dapat dikembangkan untuk wisatawan yang ingin menyaksikan fenomena alam luar biasa tanpa merusak lingkungan, sehingga dapat berkelanjutan.
“Masyarakat dapat mengamati lumba-lumba dari bibir pantai atau tubir, tanpa harus menggunakan perahu yang dapat mengganggu tingkah laku biota tersebut,” kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Achmad Sahri.
Dalam waktu kurang dari satu jam, suhu air laut di kawasan tropis tersebut tiba-tiba turun dari rata-rata sekitar 28°C mencapai titik minimum sampai 12°C.
Peristiwa ekstrem ini dikenal sebagai Extreme Upwelling Event (EUE). Fenomena ini menjadi kejadian pertama yang tercatat di dunia, dan kini menjadi fokus penelitian para ahli oseanografi di Indonesia, terutama dari Universitas Diponegoro dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra lainnya.
Menurut Sahri, EUE merupakan peristiwa naiknya massa air laut yang sangat dingin dari lapisan dalam menuju permukaan secara tiba-tiba.
Biasanya, kata Sahri, penurunan suhu akibat upwelling di daerah tropis hanya sekitar ”dua derajat celcius”, tetapi di Alor ”kami mencatat penurunan hingga sepuluh derajat hanya dalam waktu singkat sekitar satu jam,” ujar Sahri kepada tim Humas BRIN, Jumat (30/10).
Fenomena ini berdampak langsung pada kehidupan laut. Penurunan suhu ekstrem menyebabkan ikan-ikan tropis mengalami kejutan termal hingga pingsan dan mudah ditangkap oleh warga sekitar.
“Kondisi tersebut juga menarik perhatian lumba-lumba dan mamalia laut lainnya yang memanfaatkan momen tersebut untuk berburu ikan,” ujar Sahri.
Dalam penelitian terkait fenomena tersebut, BRIN berperan aktif terutama dalam mengamati perilaku dan aspek ekologi dari mamalia laut selama peristiwa terjadi.
Pengamatan dilakukan bersama tim dari Universitas Diponegoro, Universitas Tribuana Kalabahi, Universitas Sriwijaya, Konservasi Indonesia, serta mitra internasional dari University of Maryland, Tohoku University, University of Tsukuba, dan Srinakharinwirot University Thailand.
“Kami fokus memahami hubungan antara dinamika oseanografi ekstrem dan respons biologis lumba-lumba di wilayah tersebut,” kata Sahri.
Melalui kolaborasi lintas institusi, termasuk dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Alor, dan DKP Provinsi NTT, para peneliti berharap hasil riset EUE ini tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah terhadap ilmu oseanografi saja, tetapi juga menjadi dasar pengelolaan sumber daya laut dan ekowisata berkelanjutan di Kabupaten Alor dan sekitarnya.
Sahri mengatakan fenomena ini adalah pengingat betapa dinamisnya laut Indonesia. Di balik keindahannya, ”terdapat sistem alam yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri untuk diungkap,” ujar Sahri.
Sementara itu, Guru Besar di Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Prof. Anindya Wirasatriya sekaligus peneliti yang memimpin riset tersebut menjelaskan EUE itu terjadi.
“Peristiwa ini berlangsung bersamaan dengan pasang purnama (spring tide) yang memicu pergerakan massa air secara vertikal dengan kecepatan sekitar 0,012 meter per detik,” ujar Anindya.
Selain suhu yang anjlok, salinitas air laut juga meningkat dari 30 PSU (Practical Salinity Units atau satuan ukuran salinitas (kadar garam) menjadi 36 PSU.
Hal ini menunjukkan bahwa “air yang naik berasal dari lapisan laut yang lebih dalam, di mana suhu lebih rendah dan kadar garam lebih tinggi,” ujar Anindya.
Peristiwa Upwelling Ekstrem tersebut berlangsung setidaknya selama 1-4 hari dan dapat terjadi dua kali dalam sehari mengikuti pasang surut semi-diurnal, menjadikannya fenomena langka namun penting untuk dipahami karena berdampak besar pada ekosistem laut setempat.
