Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka pendaftaran program beasiswa “Doctor by Research” 2026 dengan menargetkan 250 mahasiswa.
Kuota mahasiswa tersebut terutama untuk bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
BRIN berkomitmen untuk memperkuat ekosistem riset nasional melalui penyediaan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas SDM Indonesia di bidang riset dan inovasi melalui pendidikan doktor berbasis penelitian yang terintegrasi dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Langkah strategis ini untuk mengakselerasi jumlah doktor di Indonesia melalui skema pendidikan yang fokus penuh pada penelitian. Berbeda dengan jalur doktor reguler yang biasanya mengharuskan siswa menghabiskan banyak waktu di dalam kelas untuk teori.
Program beasiswa ini bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Direktur Manajemen Talenta BRIN, Ajeng Arum Sari, menyampaikan urgensi peningkatan kualitas SDM iptek, bahwa pemerintah menargetkan rasio 5.000 SDM iptek per satu juta penduduk pada 2045, dengan 30 persen di antaranya berkualifikasi S3.
Ajeng mengatakan program Degree by Research (DbR) ini dimulai sejak 2022, ”jadi kami sudah mempunyai mahasiswa sampai saat ini, baik yang sudah lulus maupun yang sedang ongoing sebanyak 1.620.”
Terkait target 2026, Ajeng menyebutkan sebanyak 250 kuota mahasiswa baru diprioritaskan untuk bidang science, technology, engineering, and mathematics. Program ini menggunakan kurikulum berbasis penelitian penuh tanpa kelas reguler, yang memungkinkan mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai proyek strategis nasional.
“Program DbR ini berbasis penelitian dan kolaborasi. Kuncinya terletak pada sinergi antara periset BRIN sebagai co-supervisor dan dosen perguruan tinggi sebagai supervisor,” kata Ajeng, Jumat (13/3), seperti dikutip dari Brin.go.id.
“Mahasiswa tidak lagi berjalan sendiri dengan promotor kampus, melainkan terintegrasi dalam kolaborasi penelitian tersebut.”
Peserta program mendapatkan dukungan pendanaan riset sehingga dapat fokus menjalankan penelitian. Pendanaan tersebut berasal dari berbagai program riset yang dikelola BRIN maupun skema pendanaan riset nasional lainnya.
Karena itu, menurut Ajeng, nanti ada jaminan dari co-promotornya atau co-supervisor dari BRIN. Jadi mereka yang bertanggung jawab untuk menyediakan pendanaan risetnya.
Bisa dari rumah program yang ada di BRIN, kemudian juga pendanaan riset, Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) ataupun yang lainnya, kata Ajeng.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, memberikan penguatan dari sisi filosofi pendanaan dan efisiensi birokrasi. Ia menegaskan sejak 2021, LPDP telah meninggalkan pola kerja sektoral dan memilih bersinergi erat dengan BRIN demi menghindari duplikasi program.
Pendekatan co-funding menjadi solusi cerdas agar dana abadi pendidikan dapat menjangkau lebih banyak talenta tanpa mengurangi kualitas dukungan yang diberikan.
“Kami yakin betul Indonesia tidak akan pernah maju tanpa industri yang kuat, dan industri tidak akan kuat tanpa riset yang mendalam. Oleh karena itu, LPDP mendukung penuh program DBR ini,” ujarnya.
“Kami bergerak dengan prinsip ‘gaspol rem blong’ untuk memastikan setiap sektor industri strategis, mulai dari energi hingga ekonomi kreatif, didukung oleh para pakar berbasis kaidah ilmiah. Sinergi ini adalah investasi jangka panjang untuk kemandirian bangsa.”
BRIN juga menjamin keberlanjutan karier para lulusan melalui program Post-Doctoral selama dua tahun untuk memastikan hasil penelitian para doktor baru ini dapat terus dikembangkan hingga mencapai tahap komersialisasi atau kebijakan publik.
Melalui kolaborasi antara BRIN dan LPDP, pemerintah berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang tertarik menekuni bidang riset dan inovasi.
Kehadiran para peneliti unggul diharapkan mampu menghasilkan solusi ilmiah bagi berbagai tantangan pembangunan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
