Pertanian Jagung Merusak Nutrisi Tanah, Petani Muda Ilomata Gorontalo Beralih ke Agroforestri

Pertanian terasering di Desa Ilomata, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. FOTO; SARI/DARILAUT

Darilaut – Petani muda di Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Kabupaten Bone Bolango menyulap lahan bekas pertanian monokultur jagung menjadi kebun agroforestri dengan mengandalkan pupuk organik buatan sendiri.

Lahan yang semula ditanami jagung selama puluhan tahun lamanya itu telah disulap menjadi terasering dan tumpangsari yang ditumbuhi berbagai macam jenis tanaman tahunan dan bulan.

Rahman Moduto, petani muda dari Desa Ilomata sejak tahun 2023 telah mulai mengembangkan pupuk organik dari limbah rumah tangga, dan juga kotoran ternak.

“Untuk pupuk, saya mengikuti pelatihan dari Japesda. Pupuk dari sisa-sisa tanaman, dicampur tanah, dan kotoran ternak terus jadi kompos. Itu bisa memperbaiki struktur tanah,” kata laki-laki 28 tahun itu, Selasa 13 Januari 2025.

Rahman mengatakan  bahwa sejak 2023 ia tidak lagi menanam jagung. Sedari kecil, ia menyaksikan kedua orang tuanya memang bergantung pada pertanian jagung. Namun, setelah Japesda memberikan pemahaman serta penyadartahuan tentang metode pertanian modern yang ramah lingkungan, Rahman akhirnya membulatkan niat untuk beralih ke pertanian berkelanjutan dan meninggalkan pola pertanian monokultur.

Pertanian Monokultur Jagung

Pada awal milenium baru, Pemerintah Provinsi Gorontalo meluncurkan kebijakan agropolitan jagung. Kebijakan ini mendorong pertanian jagung berkembang secara besar-besaran dan bersifat monokultur.

Sebagai Provinsi yang baru saja terbentuk, berdasarkan kajian Universitas Negeri Gorontalo  tahun 2013 tentang program agropolitan jagung, pemerintah Provinsi Gorontalo menetapkan tiga program unggulan dalam memacu pembangunan, yaitu pengembangan sumberdaya manusia, agropolitan dengan entry point jagung, dan etalase perikanan.

Semntara itu, data terbaru Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo 1 November 2024, luas panen jagung pipilan pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 128,18 ribu hektar. Angka ini meningkat sebesar 13,82 ribu hektare atau 12,09 persen dibandingkan luas panen tahun 2023 yang tercatat sebesar 114,36 ribu hektar.

Kebijakan tersebut lantas mempengaruhi cara bertani masyarakat Gorontalo secara umum. Sebelumnya, petani lahan kering di Gorontalo mengelola sumber daya alam dengan menanam berbagai tanaman yang berhubungan dengan bahan makan, bukan sepenuhnya bergantung pada tanaman jagung.

Rahman Moduto petani dari Desa Ilomata, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. FOTO; SARI/DARILAUT

Hal ini kemudian menimbulkan berbagai tantangan bagi petani lokal. Perubahan pola bertani di tahun-tahun awal provinsi ini terbentuk dapat dikatakan bahwa Gorontalo mengalami revolusi hijau yang datang terlambat.

Menurut Rahman, jagung tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai bagi petani. Selain itu, kondisi lahan di Desa Ilomata yang berbukit dinilai semakin tidak cocok untuk budidaya jagung. Meski demikian, sebagian besar masyarakat Ilomata hingga kini masih bergantung pada pertanian jagung.

“Kenapa saya bikin terasering dan tumpangsari, kerena jagung merusak nutrisi tanah. Lalu dari segi keuntungan juga dibawah, lebih banyak capek daripada keuntungan,” timpal Parman.

Lahan seluas 0,5 hektar dengan kemiringan 40 persen, luasnya kira-kira setara dengan separuh lapangan sepak bola standar telah ditanami pohon lada, alpukat, pala, pisang, durian, kopi dan kelapa.

“Kebun saya di atas bukit, dan miring  jadi harus bikin teras agar laju air bisa tertahan. Yang mengenalkan pertanian berkelanjutan ini Japesda, bibit dari Japesda juga. Namun belakangan untuk bibit-bibit seperti lada, mangga dan lainya sudah saya kembangkan sendiri, lewat pelatihan Japesda,” jelas Rahman.

Eksperimen tidak hanya sampai pada pupuk kompos dan mengembangkan bibit, Rahman pun secara mandiri telah membuat membuat pupuk cair Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi). Pupuk organik ini dari fermentasi air cuci beras yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman, serta mempercepat pertumbuhan tanaman terutama tanaman yang kerdil.

“Jakaba ini baru saja pelajari, lalu saya praktekan dan ternyata berhasil. Jadi sebelum saya tau jakaba ini, saya bikin bibit lada banyak yang mati. Baru-baru ini saya bikin bibit baru dan saya sirami jakaba, yang mati hanya sedikit,” kata  Rahman.

Untuk mencegah tanaman terserang hama, Rahman menggunakan pestisida alami yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapatkan di sekitar lingkungan. Bahan tersebut antara lain daun pepaya, lidah buaya, daun sirsak, minyak kelapa, serta serbuk kayu.

“Saya juga pakai pestisida nabati, ini aman tidak ada kandungan kimia. Bahan-bahan tadi saya hancurkan dan didiamkan selama 25 jam, setelah itu airnya sudah bisa digunakan,” kata Rahman.

Rahman merupakan salah satu petani yang tergabung dalam Kelompok PUMK Cahaya Terang Ilomata yang didampingi langsung oleh Japesda. Kemampuannya dalam membuat bibit hingga meracik pupuk tentu tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses pendampingan dan pembelajaran.

“Kalau saya tidak kenal Japesda, mungkin saya tidak akan pernah tahu cara membuat bibit, teras, dan juga pupuk,” ujarnya.

Pertanian Berkelanjutan

Secara Umum, karakter wilayah Desa Ilomata didominasi oleh daerah landai berbukit. Berdasarkan laporan baseline studi ekologi, keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan di Desa Ilomata yang disusun oleh Japesda pada tahun 2022, diketahui bahwa kawasan permukiman dan perkebunan desa tersebut berada pada ketinggian sekitar 150–200 meter di atas permukaan laut.

Pertanian terasering di Desa Ilomata, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. FOTO; SARI/DARILAUT

Analisis yang dibantu dengan citra Google Earth Pro juga menunjukkan bahwa wilayah Desa Ilomata dikelilingi oleh perbukitan dengan ketinggian yang mencapai lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kemiringan lahan yang cukup tinggi di wilayah ini menyebabkan risiko erosi tanah yang signifikan. Selain itu, pola pertanian monokultur yang diterapkan hampir seluruh penduduk desa selama tiga dekade ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekologi.

Hal ini semakin penting mengingat Desa Ilomata berperan sebagai salah satu desa penyangga kawasan konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

“Saya tidak lagi menanam jagung salah satunya untuk mencegah tidak terjadi erosi, dan bukan hanya saya yang sudah bikin teras. Sudah banyak warga yang menanam dengan metode tumpangsari,” ujar Rahman.

Sementara itu, Direktur Japesda, Nurain Palopo mengungkapkan di Desa Ilomata, program pertanian cerdas iklim yang dijalankan Japesda menjadi langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendorong kemandirian petani. Salah satu pendekatannya adalah agroforestri.

“Ini memang komitmen Japesda dalam menjaga keberlangsungan ekologi, sekaligus mendorong petani agar tidak lagi menanam tanaman monokultur seperti jagung. Japesda hadir di tengah-tengah masyarakat untuk berbagi pengetahuan,” kata Nurain.

Nurain melanjutkan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem harus ada pembaruan dalam metode pertanian. Pertanian agroforestri  bertujuan menyeimbangkan berbagai kebutuhan: memproduksi kayu dan komoditas lainnya, menyediakan makanan bergizi yang cukup dan beragam, serta melindungi lingkungan agar sumber daya dan jasa ekosistem tetap tersedia bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

“Kami tidak hanya mendorong petani untuk peduli terhadap isu lingkungan saja, tetapi juga memiliki kemandirian pangan keluarga dan jangka panjang,” ujarnya.

Exit mobile version