Perubahan Iklim Hasil Penggunaan Energi dan Lahan yang Tidak Berkelanjutan

Penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan. FOTO: DARILAUT

Darilaut – Perubahan iklim adalah hasil penggunaan energi dan lahan yang tidak berkelanjutan, gaya hidup serta pola konsumsi dan produksi, lebih dari satu abad.

“Laporan ini menunjukkan bagaimana mengambil tindakan sekarang dapat menggerakkan kita menuju dunia yang lebih adil dan berkelanjutan,” kata Ketua Bersama Kelompok Kerja III Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) Jim Skea, mengutip siaran pers IPCC (4/4).

Dalam skenario ini, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menilai dengan membatasi pemanasan hingga sekitar 1,5°C (2,7°F) memerlukan emisi gas rumah kaca global mencapai puncaknya paling lambat sebelum tahun 2025, dan dikurangi sebesar 43% pada tahun 2030.

Pada saat yang sama, metana juga perlu dikurangi sekitar sepertiganya. Bahkan jika kita melakukan ini, hampir tidak dapat dihindari untuk sementara akan melebihi ambang batas suhu ini, tetapi dapat kembali ke bawahnya pada akhir abad ini.

“Sekarang atau tidak sama sekali, jika kita ingin membatasi pemanasan global hingga 1,5°C (2,7°F),” kata Skea.

“Tanpa pengurangan emisi segera dan mendalam di semua sektor, itu tidak mungkin.”

Suhu global akan stabil ketika emisi karbon dioksida mencapai nol. Untuk 1,5°C (2,7°F), ini berarti mencapai emisi bersih nol karbon dioksida secara global pada awal 2050-an; untuk 2°C (3.6°F), pada awal 2070-an.

Penilaian ini menunjukkan bahwa membatasi pemanasan hingga sekitar 2°C (3,6°F) masih memerlukan emisi gas rumah kaca global mencapai puncaknya paling lambat sebelum tahun 2025, dan dikurangi seperempatnya pada tahun 2030.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Aksi iklim yang dipercepat dan adil dalam mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.

Beberapa opsi respons dapat menyerap dan menyimpan karbon, pada saat yang sama, membantu masyarakat membatasi dampak yang terkait dengan perubahan iklim.

Misalnya, di kota, jaringan taman dan ruang terbuka, lahan basah dan pertanian perkotaan dapat mengurangi risiko banjir dan mengurangi efek panas.

Mitigasi dalam industri dapat mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan kesempatan kerja dan usaha.

Elektrifikasi (pemakaian listrik) dengan energi terbarukan dan pergeseran transportasi umum dapat meningkatkan kesehatan, lapangan kerja, dan pemerataan.

Exit mobile version