Darilaut – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 telah melintasi batas negara dan memengaruhi sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Hasil simulasi penyebaran partikel halus PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia memungkinkan terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ardhi Adhary Arbain, mengatakan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara.
”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.
Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5.




