Darilaut – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia karena bencana banjir bandang di Kabupaten Arfak 16 orang meninggal dunia. Sementara di Kabupaten Cirebon, sebanyak 21 orang meninggal duniakarena tanah longsor.
Sejak Mei hingga awal Juni ini banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Papua. Banjir dan longsor terjadi di Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Daya.
BNPB mengatakan pencarian korban Banjir bandang di Kabupaten Arfak, Papua Barat, yang telah dilaksanakan selama 14 hari mulai 17 hingga 30 Mei 2025 resmi dihentikan. Sebanyak 16 orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan 4 jiwa masih hilang.
Tim gabungan masih melanjutkan upaya pencarian korban pascabencana banjir bandang yang menerjang Kampung Jim, Distrik Catubouw, Kabupaten Pegunungan Arfak. Tim SAR gabungan terdiri atas BPBD, Basarnas, TNI/POLRI, dan masyarakat setempat.
Banjir bandang terjadi pada Jumat malam, (16/5), sekitar pukul 21.00 WIT, usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama hampir tujuh jam sejak pukul 13.00 WIT.
Derasnya aliran air menghantam lokasi camp para penambang emas tradisional, menyeret tenda dan peralatan mereka.
Meskipun tidak ada laporan kerusakan material maupun pengungsian, proses pencarian dihadapkan pada berbagai tantangan berat.
Medan yang terjal dan sulit diakses, cuaca yang tidak menentu, arus sungai yang deras, hingga keterbatasan alat dan jaringan komunikasi menjadi hambatan serius di lapangan.
Selain itu, kondisi suhu yang sangat dingin pada malam hari turut memengaruhi stamina dan kesehatan para petugas.
Di Provinsi Papua, banjir merendam 8 kampung yang berada di 2 distrik di Kabupaten Kepulauan Yapen, pada Senin (2/6).
Dua distrik yang terendam adalah Distrik Angkaisera dan Distrik Yawakukat. Sebanyak 765 jiwa dari dua distrik tersebut terdampak banjir.
BPBD Kabupaten Kepulauan Yapen memberikan bantuan selimut, tikar, sembako dan pemenuhan kebutuhan dasar yaitu makan dan minum siap saji selama 3 hari. Saat ini banjir sudah surut dan warga sudah kembali beraktivitas normal.
Bencana tanah longsor melanda Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, tepatnya di Komplek Perumahan Kodim Waisai, Distrik Waigeo Selatan, Desa Waisal, pada Senin (2/6).
Peristiwa ini terjadi akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam durasi cukup panjang, menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh air dan tidak mampu menahan beban di lereng yang curam.
Tanah longsor tersebut memiliki dimensi cukup besar, yakni lebar 15 meter, tinggi 30 meter, dan panjang mencapai 39 meter. Akibat kejadian ini, sekitar 15 kepala keluarga terdampak langsung. Total 15 unit rumah mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan.
BPBD Kabupaten Raja Ampat segera melakukan langkah tanggap darurat dengan melaksanakan asesmen dan kaji cepat di lokasi kejadian. BPBD juga berkoordinasi secara intensif dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan penanganan dan perlindungan bagi warga terdampak dilakukan secara cepat dan tepat.
Proses perbaikan rumah-rumah terdampak masih terus berlangsung. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini, namun warga yang terdampak telah mendapatkan perhatian dan penanganan dari pemerintah daerah.
Longsor Cirebon
Pencarian korban bencana tanah longsor di Galian C Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat masih dilakukan hingga Rabu (4/6).
BNPB juga mencatat 21 korban ditemukan meninggal dunia, 4 jiwa masih dalam pencarian, dan 11 orang luka-luka.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian dan menemukan serta mengevakuasi dua jenazah korban longsor pada Minggu (1/6).
Kerugian materiil tercatat sebanyak empat unit alat berat ekskavator dan tujuh unit mobil truk tertimbun longsor.
Operasi pencarian dan penyelamatan korban masih menjadi prioritas penanganan darurat saat ini. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Cirebon, TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan warga.
Angin Kencang di Jember
Angin kencang melanda Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, pada Rabu (4/6) pagi. Kejadian ini menyebabkan kerusakan fisik dan menelan korban jiwa.
Angin kencang terjadi di Desa Balet Baru, Kecamatan Sukowono. Salah satu warga, Kamsiah (61 tahun), meninggal dunia akibat tertimpa bangunan dapur yang roboh. Dapur tersebut diketahui sudah dalam kondisi rapuh sebelum kejadian. Selain menyebabkan satu korban jiwa, angin kencang juga merobohkan satu unit kandang sapi milik warga di lokasi yang sama.
