Ratusan Mahasiswa UNG Menggelar Aksi Mendukung dan Membela Palestina

UNG Action In Support Of Palestine di depan gerbang kampus satu UNG, pada Jumat (17/5). FOTO-FOTO: NOVITA J. KIRAMAN

Darilaut – Ratusan mahasiswa dan warga kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar aksi mendukung Palestina. ‘UNG Action In Support Of Palestine’ tersebut berlangsung di depan gerbang kampus satu UNG, pada Jumat (17/5).

Gencarnya serangan yang hingga kini masih terus dilakukan zionis Israel mengundang perhatian berbagai pihak, khususnya bagi para mahasiswa di berbagai belahan dunia. Mereka  melancarkan aksinya menyuarakan perlawanan kepada zionis Israel untuk segera membebaskan Palestina.

Tindakan Israel terhadap Palestina melanggar Hak Asasi Manusia dan Hukum Internasional. Karena itu, dunia harus berbicara dan bertindak untuk menghentikan pelanggaran ini.

Aksi untuk membela Palestina jilid II akan berlangsung Sabtu 18 Mei 2024 yang akan diikuti kurang lebih 24 organisasi dan seluruh kalangan yang peduli dengan Palestina, bertempat di Simpang Lima Telaga, Gorontalo.

Salah satu inisiator aksi Bela Palestina, Rahmad Labatjo, mengatakan, melalui aksi ini kami mahasiswa mengajak birokrasi Universitas Negeri Gorontalo dan masyarakat kampus untuk sama-sama peduli kepada Palestina.

“Ayo kita mahasiswa punya peran, kita punya suara, ikut ambil andil sebagaimana apa yang dilakukan oleh banyak mahasiswa-mahasiswa di luar sana, dan kita pun mewakili Gorontalo, mewakili mahasiswa khususnya UNG sama-sama menyuarakan isu Peduli Palestina ini,” ujar   Rahmad.

Wakil Rektor III UNG, Prof. Dr. Muhammad Amir Arham, mendukung penuh Aksi Bela Palestina. Menurut Amir, semua pihak harus ikut terlibat dalam isu internasional yang sampai detik ini belum menemukan celah perdamaian.

“Saya mendukung penuh apa yang mahasiswa lakukan hari ini, melihat di setiap pemberitaan, apa yang terjadi, apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina bukan lagi perang, bukan permusuhan tetapi adalah bentuk kebencian etnis,” ujar Amir.

Menurut Amir, ini bukan sekadar bela-membela, akan tetapi ini adalah persoalan kemanusiaan. (Novita J. Kiraman)

Exit mobile version