Darilaut – Riset kolaboratif terbaru kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dinamika tersembunyi di perairan laut dalam Indonesia, khususnya di Selat Lifamatola yang berada di perairan Maluku Utara.
Selat Lifamatola yang terletak antara Pulau Lifamatola dan Pulau Obi memiliki peran yang sangat penting dalam sistem Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF).
Penelitian ini tidak hanya memperkuat basis ilmu pengetahuan kelautan nasional, tetapi juga menegaskan peran strategis Indonesia dalam menjaga sirkulasi laut dan keseimbangan iklim global.
Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Adi Purwandana, menjelaskan bahwa sejumlah temuan penting berhasil diungkap, di antaranya pola pencampuran air laut yang bersifat asimetris.
Aktivitas pencampuran tercatat jauh lebih intens di bagian barat selat dan di sisi hilir menuju Laut Seram dibandingkan bagian timur. Pola ini terkonfirmasi, baik melalui data observasi lapangan maupun pemodelan numerik, kata Adi.
Penelitian ini juga menemukan adanya variabilitas musiman dan tahunan pada karakteristik massa air.
Menurut Adi, kandungan garam maksimum dari Pasifik Utara, misalnya, terdeteksi lebih kuat pada Januari atau musim barat dibandingkan September yang merupakan musim peralihan.
Menariknya, kata Adi, variabilitas musiman tersebut dapat teramati hingga lapisan laut dalam sekitar 1.800 meter, yang untuk pertama kalinya berhasil didokumentasikan di wilayah ini.
Transformasi massa air juga menjadi temuan kunci. Selama melintasi Selat Lifamatola, terjadi perubahan signifikan pada sifat-sifat air laut, termasuk hilangnya ciri khas massa air lapisan pertengahan Pasifik Utara.
“Ini menunjukkan bahwa proses transformasi air berlangsung sangat aktif di kawasan ini,” ujar Adi seperti dikutip dari Brin.go.id.
Temuan bahwa Selat Lifamatola merupakan hotspot utama pencampuran diapycnal bagi ITF membuka peluang riset lanjutan.
Tim peneliti menyoroti sejumlah tantangan ke depan, antara lain pengaruh pencampuran terhadap suplai nutrien vertikal sebelum air mencapai Laut Banda, potensi kontribusinya terhadap penundaan penipisan oksigen di wilayah hilir, serta pentingnya memasukkan pola pencampuran asimetris ini ke dalam model iklim dan oseanografi global.
Kolaborasi riset ini melibatkan Pusat Riset Oseanologi, Pusat Riset Laut Dalam, serta Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, bekerja sama dengan Institute of Oceanology Chinese Academy of Sciences dan Japan Fisheries Research and Education Agency.
“Selat Lifamatola bukan jalur biasa. Ini adalah pintu masuk utama air dalam Pasifik ke perairan Indonesia Timur. Di sinilah karakter air laut Pasifik diubah sebelum mengalir lebih jauh,” kata Adi.
Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana perairan dalam Samudra Pasifik mengalami transformasi sebelum memasuki wilayah perairan Indonesia Timur dan berkontribusi terhadap sistem iklim dunia.
