Darilaut – Sebanyak 14 pelaut telah tewas dalam serangan terhadap kapal di Selat Hormuz sejak keadaan darurat di Timur Tengah dimulai. Jalur air tersebut mengalami gangguan besar setelah pemboman Israel-AS terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.
Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) berencana mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampar di Selat Hormuz.
Untuk memungkinkan keluarnya kapal dengan aman dan untuk “mengurangi risiko yang terkait dengan ranjau dan kondisi navigasi yang memburuk”, IMO menekankan kepada para kapten kapal “jangan bergerak.”
“Tunggu untuk dihubungi. Patuhi instruksi yang dikeluarkan oleh negara-negara pantai terkait… Setiap kapal akan ditugaskan ke kelompok transit dan dialokasikan hari keberangkatan tertentu.”
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez, mengatakan setelah berbulan-bulan mengalami kesulitan dan penderitaan bagi ribuan pelaut yang tidak bersalah, dan dampak negatif bagi seluruh dunia, ”saya menyambut dengan sangat puas perjanjian perdamaian yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran.”
Hal ini menandai langkah penting menuju pemulihan keamanan maritim dan mengakhiri serangan yang tidak dapat diterima terhadap pelayaran sipil, kata Arsenio Dominguez dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.
Membersihkan Ranjau Laut
Menemukan dan membersihkan ranjau laut sangat menantang dan berbahaya bagi kapal yang melakukannya.
Ahli di Layanan Aksi Ranjau PBB (UNMAS) Paul Heslop mengatakan membersihkan ranjau darat itu sulit, apalagi membersihkan ranjau laut, bahkan lebih sulit.
Pembersihan ranjau laut tidak hanya bekerja di tiga kedalaman yang berbeda, tidak hanya tiga dimensi, tetapi ada dimensi keempat, yaitu waktu.
Menurut Heslop seiring waktu, ranjau dapat berpindah. Jika suatu area dibersihkan, dan terjadi gelombang pasang atau arus lain, maka area yang sama dapat terkontaminasi lagi.
Selain itu, “beberapa ranjau bergerak melalui air, didorong oleh mekanisme propelan sehingga para penjinak ranjau bekerja di lingkungan yang dinamis dan berubah-ubah,” ujar Heslop kepada Nathalie Minard dari UN News.
Masih belum jelas apakah ranjau dapat menenggelamkan kapal dari semua jenis jika diaktifkan, telah ditempatkan di Selat Hormuz, sebagai bagian dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Sebagian besar pengiriman belum dapat melewati selat yang penting secara strategis ini karena pemboman berkelanjutan terhadap target Iran. Amerika Serikat dan Israel masih berperang dengan Iran, serta negara-negara lain di kawasan itu.
