Darilaut – Pada 2019 bendungan (dam) tailing Brumadinho di Brasil runtuh dan menewaskan 272 orang.
“Runtuhnya bendungan Brumadinho yang menghancurkan di Brasil yang menewaskan 272 orang pada tahun 2019 adalah peringatan yang mencolok bagi seluruh industri dan menandai awal dari perjalanan penting untuk membuat fasilitas ini lebih aman bagi manusia dan lingkungan,” kata Aidan Davy, Co-COO Dewan Internasional untuk Pertambangan dan Logam (ICMM), mengutip siaran pers Unep.org.
Mengutip Wwf.org.br analisis oleh WWF-Brasil berdasarkan perbandingan citra satelit Brumadinho setelah bendungan pecah dan peta sebelum tragedi memperkirakan dampaknya terhadap tutupan hutan. Sekitar 125 hektar hutan hilang, yang setara dengan lebih dari satu juta meter persegi, atau 125 lapangan sepak bola.
Dari hilangnya hutan hingga spesies yang terancam punah, dampak lingkungan akan berlangsung selama bertahun-tahun
Analisis oleh WWF-Brasil berdasarkan perbandingan citra satelit Brumadinho setelah bendungan pecah dan peta sebelum tragedi memperkirakan dampaknya terhadap tutupan hutan. Sekitar 125 hektar hutan hilang, yang setara dengan lebih dari satu juta meter persegi, atau 125 lapangan sepak bola.
“Industri pertambangan perlu melakukan penelitian dan berinvestasi dalam proses dengan dampak dan risiko yang lebih rendah, seperti metode kering yang tidak melibatkan bendungan tailing dan mendorong perubahan dalam seluruh sistem produksi. Perubahan mendesak ini harus didorong oleh peraturan lingkungan yang kuat,” kata Mauricio Voivodic, Direktur Eksekutif WWF-Brasil.
Efek tailing terhadap lingkungan terjadi dalam banyak cara lain, selain dampaknya terhadap hutan.
Peristiwa runtuhnya bendungan Brumadinho di Brasil tersebut sebagai peringatan yang mencolok bagi seluruh industri.
ICMM bersama Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Prinsip Investasi Bertanggung Jawab (PRI) yang didukung PBB mendirikan organisasi independen baru Global Tailings Management Institute (GTMI) yang diluncurkan pada 21 Januari 2025.
GTMI didirikan untuk mempromosikan adopsi dan penerapan Standar Industri Global tentang Manajemen Tailing (GISTM) secara luas.
“ICMM, UNEP, dan PRI mengadakan Tinjauan Tailing Global tak lama setelah itu, dan pada Agustus 2020 kami menerbitkan GISTM,” ujar Davy.
Menurut Davy pendirian lembaga ini merupakan langkah transformatif berikutnya. Sebagai inisiatif nirlaba yang diatur oleh multi-pemangku kepentingan, kami percaya ini akan memberikan kepercayaan kepada masyarakat, investor, dan industri pertambangan bahwa langkah-langkah efektif sedang diberlakukan untuk mencegah kegagalan di masa depan.
Organisasi ini untuk mendorong dan menilai penerapan standar global pengelolaan tailing industri pertambangan. GTMI atau Institut Manajemen Tailing Global adalah organisasi independen yang dikelola multi-pemangku kepentingan yang didedikasikan untuk meningkatkan keamanan fasilitas tailing tambang di seluruh dunia.
Elisa Tonda, Chief, Resources and Markets at UNEP, mengatakan, UNEP bekerja untuk membuat rantai nilai pertambangan dan logam lebih berkelanjutan dan untuk meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
“Tata kelola multi-pemangku kepentingan GTMI sangat penting untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan pada akhirnya membangun kepercayaan di antara semua aktor, yang akan berkontribusi pada sektor pertambangan yang lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
