Rekaman video yang diverifikasi oleh kantor berita memperlihatkan derasnya aliran air dan material reruntuhan yang menghanyutkan puluhan orang di titik perlintasan perbatasan Gyirong, sementara di wilayah hilir Nepal, rumah-rumah, jalan raya, dan infrastruktur kelistrikan hancur.
Laporan awal dari pejabat Nepal mengindikasikan bahwa gempa bumi di wilayah tersebut mungkin telah menyebabkan runtuhnya bagian bawah gletser, yang kemudian memicu banjir bandang.
Survei Geologi AS (USGS) mencatat bahwa peristiwa seismik tersebut—yang awalnya tercatat sebagai gempa berkekuatan magnitudo 4,4—sebenarnya merupakan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es gletser secara tiba-tiba, yang diikuti oleh aliran material (debris) dalam jumlah besar.
USGS kemudian memperbarui analisisnya dan menyatakan bahwa peristiwa seismik yang terdeteksi sebenarnya adalah runtuhnya gletser berkekuatan magnitudo 5,2, yang menyebabkan material runtuhan mengalir ke hilir dan berdampak sangat merusak bagi masyarakat setempat.
Lembaga tersebut menyatakan kesimpulan itu didasarkan pada data dari stasiun seismik terdekat, gelombang seismik periode panjang, dan citra satelit, serta menegaskan bahwa tidak ada gempa bumi yang terjadi.
Mitra kemanusiaan PBB juga bergerak di Nepal; organisasi Save the Children telah mulai mengerahkan staf ke distrik Nuwakot yang terdampak banjir, dan Palang Merah Nepal telah mengirimkan 200 paket hunian darurat.



