Saat Mendarat di Mozambik, Topan Freddy Bawa Hujan Deras dan Gelombang Tinggi

Topan (Typhoon) Freddy di timur laut Pulau Mauritius dari Stasiun Luar Angkasa Internasional saat mengorbit 267 mil di atas Samudra Hindia pada 20 Februari 2023. FOTO: NASA/NICOLE MANN

Darilaut – Topan Freddy berada dekat dengan pantai Quelimane, Mozambik. Saat mendekati pendaratan siklon tropis (Tropical Cyclone) ini membawa angin kencang, hujan dan gelombang tinggi.

Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 12,2 meter, kata Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC).

Menurut JTWC dalam enam jam terakhir, Freddy terletak 39 km sebelah timur Quelimane, dan telah bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 2 km per jam (1 knot).

Freddy akan melanjutkan lintasannya ke arah barat laut. Diperkirakan sistem ini setelah melewati Mozambik akan mendarat dan melacak menuju Malawi.

Diperkirakan setelah mendarat, Freddy akan berputar balik searah jarum jam dalam dua hari ke depan. Selanjutnya, Freddy akan kembali ke Alur Mozambik (Mozambique Channel).

Mengutip Reuters topan Freddy bergerak lambat di lepas pantai Mozambik pada Sabtu, membawa banjir dan angin kencang ke Quelimane.

“Kota ini adalah zona terlarang, tidak ada toko atau bisnis yang buka. Semuanya tutup. Kami terkunci,” kata Vania Massingue, penduduk di kota pelabuhan yang terletak di provinsi tengah Zambezia, melalui telepon dari rumahnya.

“Saya bisa melihat beberapa rumah dengan atap robek, jendela pecah dan jalanan banjir. Ini sangat menakutkan.”

Saluran negara bagian TVM melaporkan bahwa perusahaan listrik telah memadamkan aliran listrik sepenuhnya sebagai tindakan pencegahan, dan semua penerbangan ditangguhkan.

Topan Freddy bergerak lambat, menurut ahli meteorologi berarti akan mengambil lebih banyak uap air dari laut, membawa hujan lebat.

Di seluruh dunia, perubahan iklim membuat badai menjadi lebih basah, lebih berangin, dan lebih kuat, kata para ilmuwan.

Lautan menyerap banyak panas dari emisi gas rumah kaca, dan ketika air laut yang hangat menguap, energi panasnya dipindahkan ke atmosfer, memicu badai yang lebih merusak.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan OCHA dan mitranya terus mendukung upaya bantuan yang dipimpin pemerintah di Mozambik maupun Madagaskar.

Di Mozambik, OCHA menyediakan makanan, tenda, perlengkapan dapur, penjernihan air, dan perlengkapan kesehatan, serta bersiap untuk pendaratan kedua.

Di Madagaskar, lebih dari 81.000 orang telah menerima bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan air, serta layanan sanitasi dan kebersihan.

Mengingat kebutuhan kemanusiaan yang terus berlanjut di Madagaskar, Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Kantor

Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) Martin Griffiths, telah mengalokasikan US$8,5 juta dari Dana Tanggap Darurat Pusat PBB.

Pendanaan ini akan digunakan untuk menanggapi topan Freddy, serta kerusakan yang ditimbulkan oleh badai tropis Emnati dan Batsirai tahun lalu.

Sekitar 470.000 orang telah terkena dampak badai di Madagaskar dan Mozambik, termasuk hampir 300.000 orang di Madagaskar dan sekitar 171.400 orang di Mozambik.

Hingga Minggu (12/3) sedikitnya 27 orang tewas karena siklon tropis Freddy.

Sistem ini berkembang sebagai bibit di selatan Jawa pada 3 Februari, kemudian mendapatkan penamaan sebagai siklon tropis pada 6 Februari oleh Biro Meteorologi Australia, di selatan Nusa Tenggara, Indonesia.

Setelah melewati Madagaskar barat daya awal pekan ini, Freddy bergerak ke barat laut melalui Selat Mozambik dan diperkirakan akan menghantam pantai Mozambik.

Melansir Reliefweb.int, di Madagaskar, setidaknya 10 orang tewas dan tiga lainnya hilang setelah Freddy membawa hujan lebat ke barat daya pulau itu sejak 5 Maret.

Lebih dari 72.600 orang terkena dampak badai terbaru, termasuk 24.300 orang yang mengungsi, 16.367 di antaranya berada di 34 lokasi sementara di beberapa distrik dan lebih dari 7.900 tinggal bersama kerabat di wilayah Menabe dan Atsimo Andrefana, menurut laporan awal oleh Biro Nasional Risiko dan Penanggulangan Bencana (BNGRC).

Diperkirakan sekitar 12.400 rumah (6.000 kebanjiran, 900 rusak dan 5.500 hancur) dan 280 ruang kelas (158 hancur, 67 rusak dan 55 tanpa atap) terkena dampaknya, mengakibatkan hampir 28.000 siswa belum bisa bersekolah.

Ini membuat jumlah kematian Freddy di Madagaskar menjadi 17 (7 dari pendaratan pertama pada 21 Februari dan 10 terakhir ini). Hampir 299.000 orang terkena dampak (226.000 di tenggara, dan lebih dari 72.600 di barat daya).

Sekitar 72.700 orang mengungsi sementara terdampak Freddy, sebanyak 48.000 di tenggara dan 24.000 di barat daya.

Di Mozambik, ketika pendaratan Freddy di provinsi Inhambane pada 24 Februari, sekitar 171.400 orang terkena dampak—termasuk 10 tewas, 10 luka-luka, dan 5.100 mengungsi— setelah hujan lebat dan banjir di wilayah tersebut.

Lebih dari 30.000 rumah terkena dampak, termasuk 14.600 rusak, 1.900 hancur dan 13.500 banjir, menurut Institut Nasional Penanggulangan Bencana (INGD) per 6 Maret.

Diperkirakan, 56.900 hektar tanaman juga terkena dampaknya. Pendaratan Freddy terjadi setelah banjir di Mozambik yang telah berdampak pada lebih dari 43.000 orang sejak 3 Februari, khususnya di Maputo.

Saat Freddy mendekati pendaratan keduanya di Mozambik, kondisi cuaca diperkirakan akan memburuk.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sedang menyiapkan komite ahli untuk mengevaluasi perjalanan topan Freddy di Samudra Hindia yang dapat mencetak rekor baru paling lama di dunia. Penyelidikan akan dilakukan WMO setelah Freddy menghilang.

Siklon tropis Freddy melanjutkan perjalanannya yang luar biasa dan berbahaya, serta berada di jalur yang tepat untuk memecahkan rekor sebagai topan tropis terlama yang pernah tercatat.

Sumber: Zoom.earth/JTWC, Reuters.com, Darilaut.id, Unocha.org dan Reliefweb.int

Exit mobile version