Satelit NASA Mengamati dan Melacak El Niño di Pasifik Khatulistiwa

Darilaut – Satelit NASA (National Aeronautics and Space Administration) telah mengamati dan melacak El Niño dari bulan ke bulan di Samudera Pasifik khatulistiwa.

Data kelautan harian tersebut menunjukkan awal fenomena El Niño secara harian melalui peta tanggal 1 Januari hingga 10 Oktober 2025. Kemudian dibandingkan dengan kondisi di hari dan bulan yang sama tahun 2025 — tahun dengan fenomena La Niña lemah.

Kondisi permukaan laut yang lebih rendah dari normal ditampilkan dengan warna biru, sementara area dengan permukaan lebih tinggi ditampilkan dengan warna oranye dan merah. Peta dalam gambar dibawah ini membandingkan kondisi laut pada tahun 2025 (tahun dengan fenomena La Niña lemah) dan tahun 2026. Peta tersebut dibuat menggunakan data altimetri dari satelit Sentinel-6, yang mengukur ketinggian air di seluruh lautan setiap 10 hari, dengan tingkat ketelitian hingga sepersekian inci.

GAMBAR: Scientific Visualization Studio NASA

Selanjutnya peta animasi yang membandingkan suhu permukaan laut pada tahun 2025 (tahun dengan fenomena La Niña lemah) dan tahun 2026. Data yang ada dalam gambar dibawah ini diperoleh dari instrumen satelit, pelampung pemantau (buoy), dan sensor di kapal.

GAMBAR: Scientific Visualization Studio NASA

Peta animasi yang dibuat Scientific Visualization Studio NASA yakni anomali suhu permukaan laut, panjang gelombang cahaya tampak, dan anomali ketinggian permukaan laut. Peta NASA yang disusun secara berurutan sesuai tanggal tersebut untuk melacak El Niño dari pusatnya di Samudera Pasifik khatulistiwa.

Animasi selanjutnya, peta yang membandingkan panjang gelombang cahaya tampak (Apparent Visible Wavelength) antara tahun 2025 (tahun dengan fenomena La Niña lemah) dan tahun 2026. Panjang gelombang cahaya tampak merupakan produk data dari satelit PACE milik NASA yang memanfaatkan data warna laut dari instrumen Ocean Color Instrument.

GAMBAR: Scientific Visualization Studio NASA

Penulis sains, Erica McNamee, menguraikan dalam artikel “NASA Satellites Observe Historic 2026 El Niño”.

El Niño adalah pola iklim alami yang muncul kira-kira setiap dua hingga tujuh tahun sekali yang ditandai dengan suhu air yang lebih hangat dari biasanya di wilayah Pasifik khatulistiwa. Para ilmuwan NASA sedang mengawasi perubahan arah angin, distribusi panas laut, pola hujan, dan ketinggian permukaan laut di seluruh wilayah Pasifik.

Pada bulan Oktober, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) menyatakan bahwa ada kemungkinan 83% El Niño terkuat sejak tahun 1950 sedang terjadi. Masyarakat di seluruh dunia, termasuk petani, petugas pemadam kebakaran, dan masyarakat pesisir, telah merasakan dampaknya dalam berbagai cara.

Salah satu petunjuk pertama muncul dalam citra satelit pada bulan Januari 2026, ketika gelombang air hangat yang disebut gelombang Kelvin terlihat di dekat Mikronesia di Pasifik barat. Gelombang Kelvin adalah gelombang air yang bergerak lambat sepanjang ribuan mil.

Seperti jalan raya bawah air, jalur ini memindahkan panas dari barat ke timur melintasi Pasifik. Air hangat memanaskan udara tepat di atasnya sehingga membuatnya naik. Perubahan tekanan udara melemahkan atau bahkan membalikkan arah angin pasat yang biasanya bertiup ke arah berlawanan, dari Amerika menuju Asia, menyebabkan permukaan air laut di Pasifik bagian timur semakin meningkat, dan perairan menjadi semakin panas. Reaksi berantai ini menandakan dimulainya El Niño.

Peta animasi menunjukkan bahwa pada awal April, gelombang Kelvin tersebut telah mencapai Pasifik bagian timur, dan suhu permukaan laut mulai menghangat. Volume air hangat meningkat, menaikkan permukaan air laut di beberapa daerah sebanyak 1 hingga 1,3 kaki (30 hingga 40 sentimeter).

Air yang lebih tinggi dari biasanya terlihat mengalir menuju Amerika Selatan kemudian bergerak ke pantai menuju California. Permukaan laut yang enam hingga delapan inci (15 hingga 20 sentimeter) lebih rendah dari biasanya terlihat di sekitar Indonesia dan Australia bagian utara.

Ilmuwan proyek untuk misi permukaan laut di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan, Josh Willis, mengatakan gelombang Kelvin seperti detak jantung El Niño.

“Dan satelit permukaan laut memungkinkan kita mengintip ke dalam lautan dan mengamati setiap detaknya,” ujar Willis seperti dikutip dari Science.nasa.gov.

Para ilmuwan telah menggunakan satelit altimetri untuk melacak ketinggian lautan dengan sangat presisi sejak tahun 1993. Catatan data yang tidak terputus tersebut berlanjut hingga saat ini dengan satelit Sentinel-6.

Radar altimeter canggih yang terpasang pada satelit-satelit ini menyurvei jutaan mil persegi lautan dalam satu hari, melengkapi armada sensor laut dan pelampung NOAA yang melayang dan menyelam melalui air di bawahnya.

Air laut yang lebih hangat dari biasanya merupakan salah satu indikator El Niño yang paling dikenal.

Menurut Willis, suhu permukaan laut di Pasifik bagian timur saat ini sudah sekitar 3 derajat Fahrenheit (1,7 derajat Celcius) lebih hangat daripada rata-rata jangka panjang, dan angka ini bisa meningkat lagi dalam beberapa bulan mendatang.

Satelit yang dilengkapi dengan radiometer gelombang mikro dan inframerah mampu menembus serta menjangkau area di sekitar awan untuk mengukur energi panas di permukaan laut. Pada tahun 2026, satelit memetakan zona air yang lebih hangat dari biasanya seiring dengan meluasnya zona tersebut sepanjang musim semi.

Zona ini—yang terlihat berwarna merah tua—membentang hingga jutaan mil persegi, mulai dari tengah Samudra Pasifik hingga ke pesisir Amerika Selatan. Suhu laut dapat memengaruhi pola cuaca di seluruh dunia. Udara di atas permukaan laut membawa panas dan kelembapan ke atmosfer, yang kemudian memicu badai hujan dan mengubah pola cuaca secara global.

Exit mobile version