Darilaut – Bibit Siklon tropis 93S diperkirakan akan menjadi siklon tropis pada Senin (21/3). Bibit 93S saat ini berada di selatan Jawa atau barat laut Australia Barat, Samudra Hindia.
Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama (Joint Typhoon Warning Center, JTWC) melalui layanan Zooom.earth, Minggu (20/3) malam, menginformasikan tropical low terletak 1022 km di utara Learmonth, Australia, dan telah bergerak ke barat-barat daya dengan kecepatan 15 km per jam (8 knot) selama 6 jam terakhir.
Kecepatan angin maksimum 65 km per jam dan tekanan udara minimum 1001 mb.
Diperkirakan Senin ini, akan tumbuh sebagai siklon tropis kategori 1 (C1) dengan kecepatan angin maksimum 95 km per jam.
Pada Senin malam, diperkirakan siklon berada di kategori 2 (C2) dengan kecepatan angin maksimum 120 km per jam.
Bibit 93S mulai berkembang pada Kamis (17/3) di Laut Timor, kemudian melintasi Kupang – Laut Sawu dan Samudra Hindia di selatan Bali dan Jawa.
Buletin Pusat Peringatan Siklon Tropis – Biro Meteorologi Australia, Minggu (21/3) malam, menginformasikan, Tropical Low dengan jarak 960 km utara – barat laut Port Hedland, dan bergerak ke barat daya dengan kecepatan 17 kilometer per jam.
Tropical Low yang berada di barat laut Australia Barat tersebut akan terus berkembang dan diperkirakan akan mencapai intensitas siklon tropis Senin, hari ini.
Siklon ini diperkirakan akan terus bergerak ke barat daya dan tetap berada di lepas pantai dari daratan Australia. Sistem ini diperkirakan tidak akan berdampak pada daratan Australia.
Deputi Bidang Meteorologi – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikasi (BMKG) juga telah mengeluarkan peringatan dini cuaca, Minggu (20/3) siang.
Bibit Siklon Tropis 93S terpantau di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa menjauhi wilayah Indonesia, seiring dengan arah geraknya ke barat daya.
Namun sistem ini membentuk daerah pertemuan/ perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang dari perairan sebelah selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur, dan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) bagian barat hingga perairan sebelah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), serta low level jet hingga mencapai >25 knot di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa.
Bibit siklon 93S ini mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut di sekitar wilayah bibit siklon tropis dan di sepanjang daerah konvergensi/ low level jet tersebut.
Sirkulasi Siklonik terpantau di Laut Arafuru dan di perairan sebelah utara Papua yang membentuk daerah konvergensi memanjang di NTT bagian timur, di perairan sebelah utara Maluku Utara dan di Papua.
Daerah konvergensi lainnya juga terpantau memanjang dari perairan sebelah barat Sumatera Utara hingga Riau dan Bengkulu.
Kemudian, di Selat Makassar bagian selatan, dari Selat Makassar bagian tengah hingga Teluk Bone, Laut Sulawesi hingga Sulawesi Utara dan Papua Barat hingga Papua.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut
Sementara bibit siklon tropis 91B (Asani) terpantau di Laut Andaman sebelah barat Thailand, semakin menjauhi wilayah Indonesia.
Namun sistem ini membentuk daerah pertemuan/ perlambatan kecepatan angin yang memanjang di Aceh.
Bibit siklon 91B mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut di sekitar wilayah bibit siklon tropis dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.
Sementara bibit siklon tropis 94S yang berada di Samudra Hindia, bergerak menjauhi wilayah Indonesia dengan kecepatan angin maksimum 35 km per jam, dan tekanan udara minimum 1004 mb.
