Sensor MODIS NASA Menangkap Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia

Citra NASA Earth Observatory karya Lauren Dauphin, menggunakan data MODIS dari NASA EOSDIS LANCE dan GIBS/Worldview. GAMBAR: NASA

Darilaut – Jika ada “predator puncak” di antara berbagai jenis kebakaran, kebakaran lahan gambut tropis adalah salah satu kandidat utamanya. Kebakaran ini—yang terjadi pada tanah lahan basah yang mengering—berlangsung lambat, sangat mencemari udara, dan terkenal sulit dipadamkan karena bara apinya membara pada suhu rendah dan sering kali merambat di bawah permukaan tanah melalui hamparan gambut yang luas.

Menurut sebuah perkiraan, kebakaran lahan gambut menghasilkan partikulat halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya, serta lima kali lebih banyak sulfur dioksida, tiga kali lebih banyak karbon organik, dan dua kali lebih banyak metana serta karbon monoksida.

Dalam artikel yang ditulis Adam Voiland yang diterbitkan Science.nasa.gov menguraikan musim kebakaran sedang berlangsung di Indonesia ketika sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua milik NASA menangkap citra ini pada tanggal 1 September 2026. Pada peta di sebelah kanan, setiap titik merah melambangkan satu “deteksi kebakaran”.

Deteksi kebakaran adalah piksel di mana sensor dan algoritma mengidentifikasi adanya anomali termal yang mengindikasikan kebakaran. Satu titik kebakaran bisa saja menghasilkan lebih dari satu deteksi.

Kebakaran lahan gambut merupakan tantangan berulang di Indonesia, negara yang memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Saat dilanda kekeringan, lanskap gambut di kepulauan ini beberapa kali berubah menjadi kobaran api yang tak terkendali dalam tiga dekade terakhir; kebakaran tersebut menghasilkan selimut asap yang bertahan selama berminggu-minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari jutaan penduduk.

Meskipun kebakaran terjadi setiap tahun di Indonesia, tahun-tahun yang dipengaruhi El Niño—terutama tahun 1997 dan 2015—mencatat tingkat kebakaran paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.

Pola iklim ini—yang menurut penilaian NOAA sedang terjadi dan menguat pada bulan Agustus—biasanya menyebabkan penurunan curah hujan yang tajam di Indonesia, terutama jika dibarengi dengan fase positif Indian Ocean Dipole (Dipol Samudra Hindia) yang juga sedang terjadi.

“Indonesia baru memasuki minggu ketiga musim kebakaran, namun kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan kondisi tahun 2015,” ujar Robert Field, peneliti dari Universitas Columbia yang mengembangkan Global Fire Weather Database, sebuah perangkat yang menghasilkan prakiraan cuaca terkait kebakaran secara real-time dan bersifat eksperimental.

“Fenomena El Niño yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan memperparah kebakaran—persis seperti yang telah kami perkirakan,” ujarnya.

Pada tahun 2015, setelah berkobar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia telah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—jumlah yang melampaui total emisi tahunan Jepang.

Per tanggal 2 September, kebakaran di Indonesia pada tahun 2026—yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan—telah melepaskan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dihasilkan oleh kebakaran tahun 2015.

Seperti halnya pada tahun 2015, Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada musim panas tahun 2026.

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, sekitar 90 persen wilayah negara tersebut mengalami curah hujan yang sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali pada awal Agustus.

Biasanya, kondisi yang terlalu basah mencegah penyebaran api melalui lapisan gambut di bawah permukaan tanah di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, namun api dapat menjalar dalam kondisi kering.

“Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi begitu api merambat ke bawah permukaan tanah, api tersebut sulit sekali dipadamkan,” kata Field.

“Api akan terus membara hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November.”

Pemerintah Indonesia memanfaatkan data pengamatan NASA dan NOAA yang diperoleh dari sensor MODIS dan VIIRS untuk memantau titik api aktif secara hampir seketika (near-real-time).

Sebagai contoh, SiPongi—platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan Indonesia yang berbasis data MODIS dan VIIRS—mencatat adanya 946 titik api pada tanggal 31 Agustus 2026.

Namun, sulit bagi MODIS dan VIIRS untuk mendeteksi kebakaran yang tertutup asap tebal atau awan, kebakaran di lapisan bawah hutan (understory), atau kebakaran di bawah tanah pada lapisan gambut.

Saat kebakaran di Indonesia mencapai intensitas tertinggi, jumlah titik api yang tercatat oleh VIIRS atau MODIS justru bisa menurun.

“Secara paradoks, peristiwa asap terparah justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS,” ujar Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di University of Maryland Center for Environmental Science yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran lahan gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.

Pembangunan saluran irigasi berskala besar dan pengeringan rawa gambut pada tahun 1990-an—yang merupakan bagian dari upaya menciptakan lahan pertanian padi berskala masif—turut berkontribusi pada kerentanan wilayah tersebut terhadap kebakaran saat ini dengan menurunkan muka air tanah secara signifikan di kawasan lahan basah, kata Cochrane.

Ia juga mencatat bahwa perkebunan kelapa sawit dan perkebunan hutan lainnya umum ditemukan di wilayah ini. Namun, setelah musim kebakaran yang sangat parah pada tahun 2015, pemerintah dan berbagai organisasi telah berupaya membendung sebagian saluran irigasi dan memulihkan lahan basah.

Terdapat pula upaya baru untuk meningkatkan kapasitas pemadaman kebakaran dan mengurangi jumlah kebakaran yang dipicu secara tidak sengaja oleh aktivitas manusia.

“Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang telah diterapkan setelah tahun 2015,” kata Shi Jun Wee, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Maryland.

Wee tergabung dalam tim yang bermitra dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan algoritma serta teknik baru guna mendeteksi lebih banyak kebakaran lapisan bawah hutan dibandingkan kemampuan MODIS dan VIIRS, dengan memanfaatkan pengamatan inframerah gelombang pendek (shortwave infrared) dari satelit Landsat dan Sentinel-2.

Seiring berlanjutnya kebakaran, ia berencana memantau perkembangannya menggunakan browser data Worldview milik NASA, FIRMS (Fire Information for Resource Management System), pengamatan HLS (Harmonized Landsat and Sentinel-2), serta GFED (Global Fire Emissions Database).

Di lapangan, baik di Indonesia maupun negara-negara tetangga, asap telah menyebabkan gangguan yang meluas. Pejabat Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk terpapar asap berbahaya.

Menurut laporan berita, sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan beberapa penerbangan mengalami penundaan akibat asap tebal.

“Orang-orang cenderung hanya fokus pada kebakaran ini saat terjadi fenomena El Niño, lalu melupakannya begitu saja,” kata Cochrane.

“Kita memerlukan fokus yang berkelanjutan—bahkan pada tahun-tahun saat kondisinya tidak terlalu parah—untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya. “Kebakaran ini menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar.”

Exit mobile version