Darilaut – Siklon tropis Fytia yang membawa gelombang laut, angin kencang dan hujan lebat menyebabkan kehancuran di Madagaskar.
Fytia dengan kekuatan Badai Tropis (Tropical Storm) terus bergerak ke tenggara menjauh dari Madagaskar.
Saat ini siklon tropis Fytia terletak 291 km dari pantai Vatomandry atau 410 km barat Saint-Denis, Pulau Reunion, Region Prancis di Samudra Hindia.
Menurut Pusat Peringatan Topan Gabungan (JTWC) Fytia telah bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 22 km per jam (12 knot) selama 6 jam terakhir.
Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 4,9 meter (16 kaki), kata JRWC.
Melansir Kantor Berita Anadolu, aa.com, hanya beberapa jam setelah mendarat, kerusakan yang disebabkan oleh Fytia sudah mulai terasa. Laporan resmi yang diterbitkan oleh Kantor Nasional untuk Manajemen Risiko dan Bencana (BNGRC) pada hari Minggu, 1 Februari, lebih dari 22.000 insiden telah tercatat di 17 distrik di lima wilayah: Boeny, Analamanga, Melaky, Sofia, dan Vakinankaratra, yang terkena dampak parah oleh siklon tersebut.
Sejauh ini, satu orang tewas telah dilaporkan menyusul runtuhnya sebuah rumah di Andohamandry, Antananarivo. Selain itu, satu orang yang tersapu banjir dilaporkan hilang, sementara lima lainnya terluka.
Sebanyak 8.441 orang telah mengungsi ke tempat penampungan atau tinggal bersama keluarga.
Kerusakan material yang signifikan juga tercatat: 4.646 rumah terendam banjir, 104 rumah rusak, dan 813 rumah hancur.
Sekitar dua puluh ruang kelas rusak (atapnya terlepas atau sebagian hancur), dan tiga lainnya hancur total.
Mengutip Imazpress.com, Fytia mendarat di Provinsi Mahajanga, Madagaskar. Menurut Meteo France, siklon tropis ini “merupakan badai terkuat yang melanda provinsi ini sejak Andry pada tahun 1983.”
“Mata badai itu mendarat di Tanjung Amparafaka, dekat kota Maroalika dan Soalala, 75 km timur laut dari Tanjung Saint-André dan 120 km barat Mahajanga,” kata Meteo France.
Provinsi Mahajanga di barat laut Madagaskar mengalami kondisi cuaca yang sangat buruk dengan curah hujan yang sangat lebat, angin yang merusak, dan kondisi laut yang berbahaya.
Setelah berada di Samudra Hindia, menurut JTWC, Fytia diperkirakan akan terus bergerak ke arah tenggara. Dalam 12 hingga 18 jam, sistem ini akan sedikit menguat.
Selama 18 jam ke depan, Fytia akan melanjutkan jalur ke arah Tenggara. Selanjutnya, sistem ini akan mulai mengalami transisi subtropis sekitar 60 jam lagi.
Fytia diperkirakan akan meningkat intensitasnya menjadi 100 km per jam (55 knot) dalam 24 jam karena kondisi lingkungan sebagian besar tetap menguntungkan, kata JTWC.
Setelah 24 jam berikutnya, tren pelemahan diperkirakan terjadi karena lingkungan menjadi semakin tidak menguntungkan.
