Darilaut – Siklon Tropis Gezani yang mendarat di pantai timur Madagaskar meninggalkan kehancuran dan kerusakan parah, serta menewaskan 31 orang.
Gezani mendarat tepat di pesisir Toamasina pada Selasa (10/2) malam. Sebelum mendarat sistem ini telah menguat menjadi siklon tropis yang intens (intense tropical cyclone) di Samudra Hindia.
Gezani bergerak ke barat-barat daya di atas Pulau Madagaskar dan melemah karena interaksi dengan medan daratan menjadi badai tropis parah (severe tropical storm) dan gangguan tropis (Tropical disturbance).
Saat ini Gezani sudah berada 500 km di barat-barat daya Antananarivo. Sistem ini terletak di Mozambique Channel 452 km di utara barat laut Toliara, pada Kamis (12/2) pagi.
Sebelum Gezani mendarat, Badan Nasional Penanggulangan Risiko dan Bencana atau National Office for Risk and Disaster Management (BNGRC) Madagaskar telah menempatkan Analanjirofo dan Atsinanana dalam status siaga merah, sedangkan Ambatosoa, Alaotra Mangoro, Analamanga, Betsiboka, Bongolava, Itasy, Vakinankaratra, Melaky, Menabe, Antalaha, Andapa, Mandritsara, Befandriana dan Avaratra telah ditempatkan dalam status siaga kuning.
Kondisi cuaca buruk diperkirakan akan terjadi di wilayah daratan, khususnya di utara Antananarivo, di selatan Mahajanga, dan di utara Toliara.
Pemerintah daerah di beberapa daerah, termasuk Analamanga, telah meliburkan sekolah pada tanggal 11 Februari sebagai tindakan keselamatan publik menyusul peringatan tersebut.
Melansir Associated Press (AP) BNGRC mengatakan bahwa runtuhnya bangunan menyebabkan sebagian dari setidaknya 31 kematian, dan setidaknya 36 orang lainnya mengalami luka serius ketika Gezani mendarat di kota Toamasina.
Badan tersebut mengatakan empat orang hilang dan lebih dari 6.000 orang mengungsi dari rumah mereka.
Toamasina, dengan sekitar 300.000 penduduk, mengalami kerusakan parah, kata warga kepada Associated Press. Mayoritas kematian terjadi di wilayah itu, kata pihak berwenang.
Presiden Madagaskar Michael Randrianirina telah meninjau lokasi di Toamasina dan bertemu dengan warga.
Di Toamasina Gezani yang membawa hujan menyebabkan banjir, serta angin kencang yang menyebaban rumah dan toko dengan jendela yang pecah dan atap yang roboh, pohon dan puing-puing lainnya berserakan di jalanan.
Gezani telah bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 28 km per jam (15 knot) selama 6 jam terakhir, kata Pusat Peringatan Topan Gabungan (Joint Typhoon Warning Center/JTWC).
Analisis JTWC Gezani berada 56 km dari pantai barat Madagaskar dan berada pada lintasan untuk kemunculan kembali di atas perairan yang sangat hangat (30–31°C) di Mozambique Channel.
Saat melintasi pulau, interaksi orografis yang signifikan dan peningkatan gesekan permukaan mengakibatkan pelemahan cepat hingga perkiraan kecepatan saat ini 45 km/jam (25 knot), kata JTWC.
Reuters melaporkan angin kencang meninggalkan jejak kehancuran di Madagaskar saat Siklon Tropis Gezani menghantam pulau itu. 29 dari kematian tersebut tercatat di Toamasina, kota terbesar kedua di Madagaskar dan dua lainnya di distrik tetangga.
Siklon Tropis Fytia
Madagaskar belum ini telah dihancurkan Siklon Tropis Fytia yang mendarat pada 31 Januari dan mengakibatkan setidaknya 12 kematian, pengungsian lebih dari 31.000 orang, dan lebih dari 200.000 orang terdampak, terutama di barat laut negara itu.
Mayoritas yang terdampak berada di Wilayah Boeny. Secara keseluruhan, Siklon Fytia berdampak pada 35 distrik di sembilan wilayah; Boeny, Analamanga, Melaky, Sofia, Vakinankaratra, Betsiboka, Atsinanana, Alaotra Mangoro dan Itasy.
Fytia menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan, dengan hampir 18.600 rumah terendam banjir, rusak, atau hancur, di samping kerusakan pada sekitar 493 ruang kelas dan 20 fasilitas kesehatan.
Siklon tersebut telah menyebabkan gangguan luas pada pendidikan, mata pencaharian, dan layanan penting.
Sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat penampungan sementara memerlukan disinfeksi sebelum kelas dapat dilanjutkan, sementara kerugian besar pada sawah dan ternak mengancam ketahanan pangan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) mengkhawatirkan dampak terberat angin kencang dan hujan lebat di Madagaskar dan Mozambik.
OCHA melaporkan Madagaskar dan Mozambik menghadapi risiko tertinggi, dengan daerah pesisir dan dataran rendah diperkirakan akan menanggung dampak terberat dari angin kencang, gelombang badai, dan curah hujan lebat.
Menurut OCHA Dana Darurat Pusat PBB (CERF) mengalokasikan US$3 juta kepada enam badan PBB di Madagaskar dalam pembiayaan yang telah diatur sebelumnya untuk tindakan antisipatif guna membantu mitra mendukung lebih dari 93.000 orang rentan di antara mereka yang paling terpapar dan berisiko tinggi terkena dampak parah oleh siklon.
