Darilaut – Siklon Tropis Taliah dengan intensitas kategori 2 masih bergerak di sebelah tenggara Kepulauan Cocos (Keeling), Samudra Hindia, Jumat (7/2).
Menurut Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama – Joint Typhoon Warning Center (JTWC), selama enam jam terakhir, Taliah telah melacak barat-barat laut dengan kecepatan 19 km per jam (10 knot).
Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 9,4 meter (31 feet). Taliah akan bergerak ke barat-barat daya selama 36 jam ke depan.
Dalam beberapa hari ke depan Taliah diperkirakan akan menghasilkan intensifikasi ulang ke puncak 150 km per jam (80 knot).
Menurut Biro Meteorologi (BOM) Australia, Siklon Tropis Taliah terletak di sebelah tenggara Kepulauan Cocos (Keeling) di atas perairan terbuka.
Dengan intensitas kategori 2, Taliah mengemas angin berkelanjutan di dekat pusat 95 kilometer per jam dengan hembusan angin hingga 130 kilometer per jam.
Taliah terletak 495 kilometer tenggara Kepulauan Cocos (Keeling) dan 800 kilometer barat daya Pulau Christmas.
Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan di Belahan Bumi Selatan (BBS) masih terpantau Siklon Tropis Taliah yang berada di Samudra Hindia, bergerak ke arah Barat – Barat Daya dengan kecepatan 50 knot (95.6 km/jam).
Kondisi ini turut memberikan dampak tidak langsung terhadap terjadinya hujan dengan intensitas sedang yang dapat disertai angin kencang di wilayah Pesisir selatan Bengkulu, Lampung, Banten hingga Jawa Barat.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan dalam sepekan ke depan tidak hanya dipicu oleh keberadaan Bibit Siklon 92W dan Siklon Tropis Taliah. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah meningkatnya aktivitas monsun serta adanya seruakan dingin, yang dapat memperkuat intensitas hujan di berbagai wilayah selama beberapa hari ke depan.
“Monsun dan seruakan dingin dari Asia turut berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia, khususnya di bagian barat dan tengah” kata Andri.
Kondisi ini semakin diperkuat dengan aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin yang diprakirakan tetap aktif hingga pekan depan, khususnya di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi. “Kami meminta masyarakat, terutama yang berada di daerah rawan longsor, untuk lebih waspada. Saat hujan deras terjadi, perhatikan tanda-tanda awal longsor seperti munculnya retakan tanah atau rembesan air. Hindari aktivitas di area berlereng curam dan pastikan sistem drainase berfungsi dengan baik guna mengurangi risiko genangan dan banjir,” ujar Andri, Rabu (5/2).
