Darilaut – Arkeoastronomi bukan hanya sebagai sumber ilmu pengetehuan. Situs arkeoastronomi mampu membawa potensi lebih luas khususnya pada astrowisata yang memiliki daya tarik bagi wisatawan
Masih banyak warisan bersejarah di Indonesia yang belum terungkap dan dapat dipelajari lebih lanjut, menurut Irma Indriana Hariawang, alumni Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam webinar bertajuk “100 Jam Astronomi untuk Semua” untuk memperingati World Space Week, Pusat Riset Antariksa (PRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Irma menjelaskan interaksi antara langit dan kebudayaan manusia dalam perspektif arkeoastronomi, pada Jumat (3/10).
Demi mendukung perkembangannya, kata Irma, diharapkan ada perguruan tinggi yang secara khusus bisa menggali lebih dalam ilmu arkeoastronomi sehingga peluang lebih terbuka untuk berkolaborasi riset antar disiplin ilmu.
Arkeoastronomi merupakan disiplin ilmu yang memadukan arkeologi, astronomi, dan antropologi untuk memahami bagaimana masyarakat masa lampau mempercayai dan memanfaatkan benda-benda langit.
Irma mengatakan bahwa arkeoastronomi terbagi dalam tiga cabang, yakni astroarkeologi, sejarah astronomi, dan etnoastronomi.
Astroarkeologi berfokus pada arsitektur dan lanskap situs-situs kuno yang berkaitan dengan fenomena langit. Sejarah Astronomi mempelajari data tertulis terkait peninggalan berupa benda atau fenomena langit.
Etnoastronomi mengkaji dan mencari bukti keterkaitan budaya masyarakat terhadap fenomena astronomi.
Studi arkeoastronomi akan terus bertumbuh dan berkembang. Setiap temuan baru tidak hanya menambah pemahaman kita tentang sejarah sains dan teknologi di nusantara, tetapi juga mengungkap filosofi dan cara pandang nenek moyang mempercayai diri mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta.
Warisan pengetahuan ini menjadi bukti bahwa jauh sebelum era modern, langit telah menjadi panduan dan sumber inspirasi bagi peradaban.
Jejak arkeoastronomi sudah ada ribuan tahun sebelum Masehi di Indonesia, seperti dalam panduan bertani, upacara keagamaan dan memanfaatkan langit sebagai navigasi.
Pengaruh astronomi dari Tiongkok, Indian (Amerika), Arab, dan Eropa secara bertahap membentuk kombinasi akulturasi budaya yang unik, seperti Kalender Saka, arah kiblat, hingga Pranoto Mongso –kalender yang dipercayai dalam bertani berbasis pada geraknya Matahari yang digunakan masyarakat Jawa.
Bukti peninggalan arkeoastronomi lainnya adalah dengan ditemukannya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
“Kedua candi tersebut terbukti dibangun berdasarkan keselarasan dengan Matahari dan Bulan,” kata Irma.
