Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Vegetasi Mangrove Pulau Obi

Cecak Jarilengkung, Cyrtodactylus papeda. YOUTUBE

Darilaut – Spesies baru Cecak Jarilengkung dengan nama ilmiah Cyrtodactylus papeda ditemukan di Kawasi wilayah pesisir barat Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Cecak ini, antara lain, hidup di vegetasi mangrove.

Peneliti Zoologi dari Museum Zoologicum Bogoriense Pusat Penelitian Biologi Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) Awal Riyanto bersama rekan, berhasil mengidentifikasikan cecak Jarilengkung jenis baru tersebut dari wilayah pesisir barat Pulau Obi

Penemuan cecak ini berasal dari spesimen yang ditemukan pada tahun 2016 dan 2018 oleh Fata H. Faz dari Institut Pertanian Bogor.

Secara genetik dan morfologi cecak ini mirip dengan spesies Melanesia yaitu Cyrtodactylus papuensis.

“Bedanya terlihat pada ukuran tubuhnya yang lebih besar, baris sisik besar paha lebih dari satu baris, dan alur precloacal yang dalam pada jantan,” kata Riyanto.

Menurut Riyanto penyematan nama ‘papeda’ merupakan bagian ikhtiar untuk mempromosikan atau mengenalkan keragaman kuliner nusantara ke dunia.

Papeda, nama makanan tradisional dari Maluku dan Papua Barat yang terbuat dari sagu.

“Cecak ini dapat ditemukan pada vegetasi rawa bakau, pinus, dan hutan sekunder yang berasosiasi dengan semak belukar. Biasanya aktif dan ditemukan di malam hari antara 30 cm sampai 3 m di atas tanah dan sebagian besar pada batang pohon,” ujar Riyanto.

Habitat Cecak Jarilengkung, Cyrtodactylus papeda, di Kawasi, Pulau Obi. FOTO: FATA H FAZ/JURNAL HERPETOLOGICA

Analisis molecular mengindikasikan spesimen Cyrtodactylus dari Pulau Obi masuk dalam kelompok C. marmoratus grup.

Populasi Cyrtodactylus dari Pulau Obi memiliki kekerabatan dekat dengan sampel C. papuensis dari Pulau Buru, Raja Ampat dan Selatan Papua Nuigini.

Rata-rata ukuran panjang C. papeda mencapai 60,7 mm. Bagian dorsum cecak berwarna coklat muda.

Memiliki pola dengan tujuh atau delapan tanda coklat gelap melintang sempit dan tidak beraturan antara ketiak dan selangkangan.

Warna garis coklat tua memanjang dari bagian postnasal melewati mata dan berlanjut ke lubang telinga bagian atas. Sisi punggung ekor bengkok, di bagian dasar memiliki pita gelap menyempit, melebar saat ekor mengecil.

“Baik dalam keadaan hidup dan diawetkan, cecak ini memiliki warna yang sama. Semua area berwarna coklat pucat dengan bagian dorsum bewarna abu-abu, krem, atau kuning kecoklatan, sedangkan supercilium dan canthus berwarna kuning keemasan,” kata Riyanto.

Temuan Cecak Jarilengkung Pulau Obi telah diterbitkan dalam Jurnal Herpetologica, 78(1), 2022, 30–39 dan dapat diakses melalui tautan berikut: https://s.id/PapedaCecakJarilengkung.

Selain Riyanto, peneliti lainnya masing-masing Fata H. Faz, A.A Thasun Amarasinghe, Misbahul Munir, Yuli S. Fitriana, Amir Hamidy, Mirza D. Kusrini dan Paul M. Oliver.

Exit mobile version