Darilaut – Pengembangan smart buoy selain untuk keselamatan pelayaran, teknologi ini berpotensi dikembangkan untuk aplikasi lain, seperti pemantauan lingkungan dan kebencanaan, serta sistem peringatan dini tsunami.
Implementasi teknologi smart buoy diproyeksikan menjadi pilot project nasional dalam pengembangan sistem Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) berbasis teknologi mutakhir, serta model transformasi digital kenavigasian di Indonesia
Distrik Navigasi Tanjung Intan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan berkolaborasi dengan Pusat Riset Elektronika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan SBNP berbasis digital atau smart buoy guna meningkatkan keselamatan pelayaran dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Sinergi antara BRIN dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di bidang riset dan inovasi ini merupakan langkah nyata kehadiran negara dalam memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendukung implementasi Asta Cita ke-3, yaitu pengembangan ekonomi yang berdaulat dan mandiri melalui penguatan sektor strategis maritim.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, mengatakan bahwa keandalan sistem navigasi di alur pelayaran Tanjung Intan–Cilacap menjadi faktor krusial karena kawasan tersebut merupakan jalur vital distribusi energi nasional.
“Mengingat peran strategis tersebut, keandalan SBNP menjadi faktor kunci,” ujar Masyhud, mengutip Brin.go.id.
”Pemanfaatan teknologi smart buoy hasil riset BRIN ini memungkinkan pemantauan kondisi perairan secara real time, sehingga respons darurat dapat dilakukan lebih cepat dan akurat dalam menjamin keselamatan dan kelancaran pelayaran,” katanya, Jumat (13/2).
Secara nasional, SBNP yang dikelola Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tersebar di 25 Distrik Navigasi dengan total 5.468 unit.
Dengan cakupan yang luas, sistem pengawasan berbasis teknologi dinilai menjadi kebutuhan strategis agar seluruh sarana navigasi berfungsi optimal dan berkelanjutan.
Alur Pelayaran Tanjung Intan–Cilacap sendiri menjadi simpul penting distribusi bahan bakar minyak dari kilang milik PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap yang berkapasitas produksi 348.000 barel per hari.
Kilang terbesar di Indonesia tersebut memasok sekitar 34 persen kebutuhan BBM nasional dan 60 persen kebutuhan BBM Pulau Jawa.
Pengembangan smart buoy merupakan kelanjutan riset BRIN di bidang elektronika dan informatika yang telah dimulai sejak 2022 melalui nota kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Pada tahun yang sama, satu purwarupa smart buoy berhasil dipasang di wilayah kerja Distrik Navigasi Tanjung Emas Semarang.
Hingga saat ini, dua unit smart buoy telah terpasang dan terintegrasi dengan pusat kendali (control center) di Kantor Distrik Navigasi Tanjung Intan, sehingga dapat dimonitor secara langsung.
