Temuan Ikan Purba Raja Laut di Perairan Pulau Siladen Penting Bagi Konservasi Coelacanth di Indonesia

Ikan purba Coelacanth (Raja Laut) dalam posisi mengapung di perairan dekat Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6) pagi. POTONGAN VIDEO: LUTHER KAMPONG

Darilaut – Ikatan Sarjana Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (ISKU) menilai temuan ikan purba Raja Laut di perairan Pulau Siladen, Taman Nasional Bukanen, Manado, Sulawesi Utara, penting bagi konservasi Coelacanth di Indonesia.

Penemuan ini diharapkan dapat memberikan tambahan data penting bagi penelitian dan upaya konservasi Coelacanth di Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa perairan Sulawesi Utara masih menjadi habitat penting bagi spesies purba yang sangat langka tersebut, demikian hasil kajian ISKU.

Menurut ISKU, perairan Sulawesi Utara dikenal sebagai lokasi penemuan pertama spesies dengan nama ilmiah Latimeria menadoensis pada tahun 1998. Sudah beberapa kali penemuan Coelacanth yang juga disebut “fosil hidup” di beberapa lokasi, seperti di Teluk Manado, dan lain-lain.

Penemuan ini menjadi perhatian karena Coelacanth merupakan salah satu spesies ikan paling langka di dunia dan memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi.

Setelah penemuan tersebut, ikan segera ditangani oleh Tim Coelacanth Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk dilakukan identifikasi, pendokumentasian, dan penanganan sesuai prosedur ilmiah.

Fosil Hidup

Ikan Raja Laut disebut juga ikan purba dan fosil hidup habitatnya di lereng berbatu di perairan dalam dan ditemukan juga pada gua karbonat. Sebaran di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo Utara, Buol Sulawesi Tengah, Biak dan Raja Ampat Papua, dan Maluku Utara.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 tahun 2025, ikan Raja Laut termasuk jenis ikan yang dilindungi.

Raja Laut (Latimeria  menadoensis) memiliki bentuk yang khas dan mudah dibedakan. Bentuk sisik ikan ini berbeda secara signifikan di beberapa bagian tubuh. Ukuran sisik juga berbeda di setiap bagian tubuh.

Terdapat kecenderungan penurunan ukuran sisik dari tubuh bagian depan ke tubuh bagian belakang.

Melanofor banyak terkonsentrasi pada bagian atas tubuh daripada bagian perut. Sirip lobus punggung, daerah dubur dan sirip lobus anus memiliki berbagai bentuk, walaupun pada bagian tubuh yang sama.

Ikan purba Coelacanth (Raja Laut) dalam posisi mengapung di perairan dekat Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6) pagi. POTONGAN VIDEO: LUTHER KAMPONG

Temuan di Pulau Siladen

Pagi itu, Jumat (26/6), lepas pukul 09.30 Wita, perairan di Pulau Siladen tampak tenang. Soni Pontoh, nelayan Pulau Siladen seperti biasanya melaut untuk menangkap ikan.

Soni melihat ikan yang mengapung di pernukaan laut. Ia bergegas ke pantai di Pulau Siladen dan mengabarkan ikan tersebut kepada Jimbris Kampong, salah satu karyawan Resort Siladen.

Mereka ke lokasi ikan Raja Laut yang mengambang. Jimbris langsung mengenali itu ikan Raja Laut.

Pengambilan gambar dilakukan di perairan, kemudian fosil hidup ini dibawa ke pinggir pantai di Pulau Siladen. Video temuan ikan Raja Laut dibagikan di grup internal Instruktur Scuba Schools International (SSI)  chapter Sulawesi, sekira pukul 10.10 Wita.

Dibawa ke Manado

Ikan Raja Laut ini kemudian dibawa ke Kota Manado, melalui Pantai Tiwoho, Minahasa Utara. Jarak tempuh Pulau Siladen ke Tiwoho hanya membutuhkan waktu selama 15 menit.

Luther Kampong bersama Soni mengawal ikan itu ke Tiwoho. Tiba di pantai Tiwoho, petugas TN Bunaken sudah berada di lokasi. Petugas membawa ikan Raja laut ke kantor Balai TN Bunaken di Molas. Penanganan lanjutan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat.

Ikan purba Coelacanth (Raja Laut) ditemukan di dekat Pulau Siladen, Taman Nasional Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6) pagi. FOTO: LUTHER KAMPONG

Alumni Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat, Stephen Robert, M.Si, yang ada di grup SSI menyampaikan kepada Jimbris agar melakukan prosedur penanganan Raja Laut sebagai ikan yang dilindungi.

Untuk keperluan ilmiah, Stephen yang biasa disapa Yodo, juga telah menghubungi sejumlah dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat, antara lain, Prof. Kawilarang Warouw Alex Masengi, Ph.D, Noldy Gustaf F. Mamangkey, Ph.D, Kakaskasen Andreas Roeroe, Ph.D, Daisy Monica Makapedua, Ph.D dan Audi Dien, M.Si, dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Utara.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Dr. Ockstan Jurike Kalesaran mengutus Dr. Reiny Tumbol yang menjemput ikan raja laut di Tiwoho untuk penanganan ikan fosil hidup tersebut.

Panjang Lebih 1 Meter

Ikan purba Coelacanth yang ditemukan dalam keadaan mengambang di permukaan laut dekat Pulau Siladen itu, panjangnya 1,14 cm dan lebar 30 cm.

Pemandu wisata di Pulau Bunaken, Friets Pieter, mengatakan Coelacanth yang ditemukan di dekat Pulau Siladen sudah dalam keadaan mati, akan tetap tidak ada tanda-tanda luka atau bekas serangan predator di tubuhnya.

Friets mencatat temuan ikan purba Coelacanth khususnya di Taman Nasional Bunaken sudah untuk ketiga kalinya.

”Informasi 2-3 tahun lalu, nelayan menemukan ikan Coelacanth di Tagulandang (Kabupaten Kepulauan Sitaro),” ujar Friets, seraya menambahkan ikan raja laut itu dilepas kembali karena masih hidup. (VM)

Exit mobile version