Carolina Selatan – Tim ilmuwan menemukan terumbu karang laut dalam sepanjang 85 mil di lepas pantai Carolina Selatan, Amerika Serikat. Terumbu karang ini berada jauh di bawah permukaan Samudra Atlantik.
Koordinator Web Kantor Eksplorasi dan Penelitian Laut NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Caitlin Adams mengatakan, tim ilmuwan yang tergabung dalam Deep Search, telah melakukan dua kali penyelaman. Lokasinya sekira 160 mil dari lepas pantai Charleston, Carolina Selatan.
Hasilnya, selama penyelaman, tim mengamati karang Lophelia pertusa yang luas di laut dalam. Karang batu Lophelia tumbuh dan mati, kemungkinan lebih dari ribuan atau bahkan ratusan ribu tahun lalu.
Lophelia tumbuh di atas kerangka lama dan membentuk struktur gundukan setinggi 80 hingga 100 meter. Karang ini mungkin terbentang lebih jauh.
Sebelumnya, pada Mei dan Juni 2018, tim Okeanos Explorer telah melakukan pemetaan yang menunjukkan terdapat gundukan di dasar laut yang sama. Ternyata gundukan itu karang Lophelia.
Berdasarkan sampling yang ada, karang Lophelia paling banyak diseleksi karena paling dominan di laut dalam.
Tim Deep Search memperkirakan gundukan ini sejauh 85 mil. Tim ilmuwan telah mengumpulkan sampling yang berisi spesies karang yang berbeda, antara lain, Lophelia, Enallopsammia, Madrepora dan octocorals (plexaurids, primnoids, Anthomastus ).
Struktur karang menciptakan habitat kompleks sebagai rumah bagi beragam komunitas invertebrata dan ikan. Terumbu karang laut dalam berinteraksi dengan ikan yang bermigrasi setiap hari dari permukaan dan membantu mendorong produktivitas ekosistem di wilayah tersebut.
Terumbu karang yang baru ditemukan ini, berpotensi menghubungkan habitat karang laut dari selatan ke utara. Terumbu karang yang terhubung lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Sehingga dapat membantu meningkatkan kesehatan keseluruhan karang laut dalam dari Pantai Timur dan ekosistem Atlantik.
NOAA mencatat penemuan ini hanyalah awal dari penelitian yang sedang berlangsung dan akan membuat anggota tim sibuk dalam waktu yang lama.*
Sumber: oceanexplorer.noaa.gov
