Tim Pengabdian Universitas Terbuka Dorong Nelayan Payang Pelabuhan Ratu Beralih ke Teknologi Ramah Ekosistem

Kapal nelayan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. FOTO: KOLEKSI LIS M. YAPANTO

Darilaut – Tim Pengabdian kepada masyarakat Universitas Terbuka (UT) mendorong nelayan payang di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, untuk beralih ke teknologi ramah ekosistem.

Program ini dilaksanakan oleh tim LPPM Universitas Terbuka bekerja sama dengan Kelompok Nelayan Tangkap Payang Pelabuhan Ratu, dengan pendekatan ekonometrika lingkungan untuk menganalisis faktor adopsi teknologi ramah ekosistem di kalangan masyarakat pesisir.

Pendampingan dilakukan bagi 50 nelayan tangkap skala kecil yang tergabung dalam kelompok nelayan payang.

Program menyasar dua persoalan mendesak yang dihadapi nelayan setempat: wilayah tangkapan yang kian menjauh dari garis pantai dan menurunnya hasil tangkapan akibat persaingan pemanfaatan rumpon oleh pihak luar.

Selama beberapa tahun terakhir, nelayan payang di Pelabuhan Ratu harus menempuh jarak yang jauh lebih panjang untuk mencapai wilayah tangkapan yang produktif.

Kondisi ini membuat biaya operasional melaut — mulai dari bahan bakar, perbekalan, hingga waktu trip — membengkak, sementara hasil tangkapan justru cenderung menurun karena ikan target lebih banyak terkonsentrasi di sekitar rumpon-rumpon milik pihak lain.

“Dua tekanan ini terjadi bersamaan dan langsung memukul pendapatan nelayan skala kecil, yang pada dasarnya memiliki modal dan daya tahan usaha yang terbatas,” ujar Ketua Tim Pengabdian, Tamang Rumtini, PhD., di sela kegiatan sosialisasi bersama kelompok mitra.

Untuk merespons kondisi tersebut, tim menerapkan pendekatan ekonometrika lingkungan (environmental econometrics) guna mengidentifikasi secara empiris faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat nelayan dalam mengadopsi teknologi ramah ekosistem — seperti alat bantu navigasi hemat bahan bakar, alat tangkap yang lebih selektif, hingga skema rumpon yang lebih ramah lingkungan.

Melalui survei terstruktur dan diskusi kelompok terarah (FGD) terhadap 33 responden, tim menyusun model estimasi yang memetakan pengaruh faktor seperti jarak tangkap, biaya operasional, tingkat pendidikan, akses informasi, hingga akses permodalan terhadap kesiapan nelayan beradopsi teknologi.

“Pendekatan berbasis data ini penting agar program pendampingan tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab akar masalah yang dihadapi nelayan di lapangan,” kata Tamang Rumtini.

Dari hasil sementara di lapangan, tim menemukan bahwa keterbatasan akses permodalan menjadi salah satu penghambat utama adopsi teknologi, sementara keanggotaan dalam kelompok nelayan serta akses terhadap penyuluhan justru berperan sebagai faktor pendorong.

Temuan ini akan menjadi dasar rekomendasi bagi mitra maupun instansi terkait, termasuk usulan penataan pemanfaatan rumpon secara lebih kolaboratif antarkelompok nelayan di wilayah Pelabuhan Ratu.

Salah satu perwakilan kelompok nelayan mitra menyambut baik program ini. Nelayan payang peserta kegiatan tersebut berharap ada solusi nyata soal rumpon dan biaya melaut yang makin berat, bukan cuma sosialisasi sekali lalu selesai.

Ke depan tim pengabdian akan melanjutkan proses pendampingan, termasuk fasilitasi akses informasi dan koordinasi dengan dinas terkait mengenai pengelolaan rumpon di wilayah pesisir Sukabumi.

Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi bidang pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada isu keberlanjutan sumber daya pesisir dan kesejahteraan nelayan skala kecil. (Dr. Lis M. Yapanto, Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Manejemen Perikanan, Universitas Terbuka)

Exit mobile version