Darilaut – Selama bulan September 2025, telah terjadi beberapa siklon tropis bernama yang berdampak langsung pada jutaan orang.
Topan (typhoon) Bualoi, Ragasa dan Mitag menghantam sejumlah negara, seperti Filipina, Taiwan, Cina dan Vietnam menyebabkan sedikitnya 121 orang tewas dan hilang.
Topan Ragasa, Mitag dan Bualoi membawa angin kencang menumbangkan puluhan ribu pohon dan merobohkan ribuan tiang Listrik. Hujan deras meluapkan sungai dan membanjiri pemukiman dan lahan pertanian serta tanah longsor. Sementara gelombang laut yang ganas dan gelombang badai menerjang pesisir.
Topan secara berturut menghantam Filipina pada September, Mirasol (Mitag), Nando (Ragasa), dan Opong (Bualoi) berdampak pada 906.794 keluarga.
Melansir Kantor Berita Filipina, PNA, tercatat 27 orang meninggal dunia, 16 orang hilang dan 33 orang terluka.
Dewan Nasional Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen (NDRRMC) pada hari Senin (29/9) mengatakan keluarga-keluarga ini setara dengan 3.402.391 orang yang tinggal di 8.087 desa/ kelurahan di 16 wilayah di seluruh negeri.
Di Taiwan, Focustaiwan.tw melaporkan topan Ragasa menerjang perairan selatan Taiwan ke Laut Cina Selatan, radiusnya mencakup Kabupaten Pingtung dan Taitung serta Semenanjung Hengchun.
Hujan deras yang dibawa badai memicu meluapnya danau penghalang Matai’an Creek di Kabupaten Hualien, menyebabkan banjir besar yang telah menewaskan 18 orang dan enam orang hilang di Kotapraja Guangfu.
Sementara itu, di Vietnam Topan Bualoi menyebabkan 34 orang tewas dan 20 orang masih hilang, serta 140 orang lainnya terluka. Kerugian dengan hantaman topan ini di Vietnam lebih dari $332 juta.
Melansir Vietnamnews.vn kerusakan perumahan sangat parah, dengan 153 rumah hancur dan lebih dari 154.000 rumah rusak atau atapnya terbuka.
Topan Bualoi, telah menghancurkan wilayah utara dan tengah di Vietnam. Departemen Pengelolaan Tanggul dan Pencegahan Bencana di bawah Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup mengatakan hujan deras, tanah longsor, banjir bandang, dan angin kencang yang dipicu oleh badai tersebut telah menghantam 18 provinsi dan kota.
Banjir menggenangi atau menghancurkan hampir 49.000 hektar lahan padi dan tanaman pangan. Lebih dari 1.500 ternak dan 380.000 unggas mati, sementara 13.300 hektar tambak akuakultur rusak.
Badai juga menghantam infrastruktur. Pihak berwenang melaporkan 25 insiden tanggul di tujuh provinsi, lebih dari 3.000 kasus banjir dan tanah longsor yang mengganggu transportasi, dan hampir 20 km tanggul sungai dan pantai terkikis, yang paling parah di Kota Hue.
Jaringan listrik terdampak parah. Sebanyak 8.294 tiang listrik roboh. Hampir 2,7 juta rumah tangga kehilangan Listrik.
Sektor telekomunikasi juga terdampak, dengan 268 komune terputus dari jaringan transmisi data pemerintah dan lebih dari 1.100 stasiun pangkalan seluler terputus.
Lebih dari 63.000 pohon di pinggir jalan tumbang. Sarana Pendidikan seperti sekolah juga tak luput dari kerusakan. Sebanyak 1.130 fasilitas pendidikan rusak atau terganggu.
