Darilaut – Pada tahun 2024 dan 2025, Vietnam mengalami salah satu musim topan paling merusak dalam beberapa dekade terakhir.
Ketika Topan Yagi melanda Vietnam bagian utara pada September 2024, provinsi pegunungan Cao Bang—yang dikenal secara global sebagai Geopark Global UNESCO Non Nuoc Cao Bang yang memukau—mengalami kehancuran luas. Kawasan ini terletak sekitar 300 km dari Hanoi.
Curah hujan ekstrem memicu banjir dan tanah longsor yang dahsyat, merenggut 55 nyawa, dan mengisolasi berbagai komunitas.
Hanya berselang satu tahun, badai besar kembali menghantam lereng-lereng yang tanahnya sudah jenuh air, menciptakan situasi “banjir di atas banjir” yang sangat berat.
Bagi keluarga-keluarga yang tinggal di kawasan tangkapan air yang terjal di Cao Bang, ancaman sering kali tidak datang sebagai peristiwa tunggal.
Melansir Unesco.org kejadian-kejadian ini menyoroti tantangan yang kian berkembang bagi provinsi tersebut: di medan pegunungan yang curam, curah hujan ekstrem dapat memicu bahaya yang saling berkaitan dan berkembang dengan cepat, sehingga pihak berwenang maupun masyarakat hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk bersiap dan bertindak.
Di lembah-lembah curam di Vietnam bagian utara, curah hujan ekstrem hanya menyisakan waktu beberapa jam bagi masyarakat untuk bertindak.
Sebuah penilaian ilmiah yang didukung oleh UNESCO dan Pemerintah Jepang membantu Cao Bang untuk lebih memahami risiko-risiko yang saling berkaitan ini, serta memperkuat alur dari pengetahuan ilmiah menuju sistem peringatan dini yang dapat ditindaklanjuti oleh masyarakat setempat.
Penilaian Risiko Ilmiah
Menyusul rangkaian bencana tahun 2024-2025, Pemerintah Vietnam dan Provinsi Cao Bang meminta dukungan UNESCO untuk memperkuat pemahaman ilmiah mengenai risiko banjir dan tanah longsor, memperbaiki sistem peringatan dini, memperbarui informasi risiko, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, demi upaya “Membangun Kembali dengan Lebih Baik” (Build Back Better).
Melalui UNESCO, berkat dukungan darurat dari Pemerintah Jepang, UNESCO Vietnam —berkolaborasi teknis dengan Institut Meteorologi, Hidrologi, Lingkungan, dan Kelautan (IMHEMS) serta Komite Nasional untuk Program Hidrologi Antarpemerintah (IHP)—melakukan penilaian ilmiah.
Penilaian ini berfokus pada dua aspek yang saling berkaitan: karakteristik serta faktor pemicu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor; serta efektivitas sistem peringatan dini yang telah ada di provinsi tersebut.
Penelitian ini menggabungkan analisis data dengan investigasi lapangan di sepanjang sungai Bang Giang dan Gam, survei di lokasi-lokasi yang terdampak tanah longsor, serta konsultasi dengan pihak berwenang di tingkat provinsi maupun lokal serta masyarakat setempat.
Risiko Berantai
Penilaian ini menunjukkan bahwa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Cao Bang merupakan bahaya yang saling terkait dan bersifat berantai. Curah hujan ekstrem yang berkepanjangan dapat menjenuhkan daerah tangkapan air yang curam, meningkatkan aliran permukaan dan ketinggian air sungai secara drastis, serta memicu tanah longsor dan aliran puing.
Selanjutnya, material longsor dapat menyumbat saluran drainase dan alur sungai, yang kemudian memperparah banjir di wilayah hilir.
Di medan pegunungan yang terjal ini, rentang waktu untuk melakukan tindakan dini bisa sangat singkat. Di sepanjang sungai Bang Giang, jeda waktu peringatan kritis untuk banjir besar hanya berkisar antara 12 hingga 24 jam. Pada daerah tangkapan air yang lebih kecil dan curam, banjir bandang, tanah longsor, dan kenaikan permukaan air sungai yang cepat bahkan dapat terjadi dalam hitungan jam saja.
Penilaian ini juga menunjukkan bahwa paparan terhadap bahaya serta kerentanan infrastruktur sangat memperparah dampak yang ditimbulkan. Permukiman dan jalur transportasi yang terletak di kawasan rawan bencana, ditambah dengan kapasitas saluran air yang terbatas serta perubahan tata guna lahan yang pesat, dapat melipatgandakan konsekuensi dari cuaca ekstrem.
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menegaskan satu pesan penting: di lingkungan di mana bahaya dapat muncul dalam hitungan jam, peringatan dini harus disampaikan tepat waktu, bersifat spesifik untuk lokasi tertentu, dan harus berkaitan erat dengan langkah tindakan nyata.
