Darilaut – Tsunami dapat bermula jauh dari pesisir dan berdampak pada beberapa negara, sehingga tidak ada satu negara pun yang dapat melakukan persiapan secara sendirian. Tsunami Ready bukan sekadar pengakuan, ini komitmen berkelanjutan terhadap kesiapsiagaan. "Laut tidak untuk ditakuti, melainkan untuk dihormati," ujar Carolina Lozano, Sekretaris Nasional Manajemen Risiko Ekuador, seraya menyoroti pentingnya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman yang tidak mengenal batas negara. "Kita membutuhkan sains, observasi, data, dan sistem peringatan regional; serta lembaga dan otoritas terkoordinasi yang siap bertindak. Namun yang terpenting, kita membutuhkan masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan saat peringatan dikeluarkan," kata Lozano mengutip siaran pers Unesco. Untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir dalam menghadapi risiko tsunami, Komisi Oseanografi Antarpemerintah (Intergovernmental Oceanographic Commission - IOC) atau UNESCO bekerja sama dengan masyarakat membangun komunitas yang lebih aman dan tangguh. Ekuador menjadi tuan rumah lokakarya Tsunami Ready IOC-UNESCO yang berlangsung dari tanggal 31 Agustus hingga 3 September. Lokakarya ini mempertemukan para pejabat dari Pusat Peringatan Tsunami Nasional dan Badan Manajemen Risiko Nasional dari Cile, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, El Salvador, Honduras, Guatemala, Meksiko, dan Panama, serta otoritas nasional maupun lokal dan perwakilan masyarakat dari Ekuador. Pelatihan ini membantu meningkatkan pemahaman mengenai mekanisme pelaksanaan dan manfaat Tsunami Ready Recognition Programme (TRRP) atau Program Pengakuan Tsunami Ready dari IOC-UNESCO, sekaligus memperkuat pertukaran pengalaman dan praktik terbaik antarnegara di kawasan Pasifik timur. Ini merupakan lokakarya subregional Tsunami Ready pertama yang diselenggarakan dalam bahasa Spanyol, yang sangat memfasilitasi dialog serta pertukaran pengalaman dan praktik terbaik di antara para peserta. Selama lokakarya, para peserta mempelajari dan menggunakan berbagai perangkat serta indikator yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan penilaian, persiapan, dan respons terhadap tsunami. Antara lain, indikator-indikator ini membantu menentukan wilayah yang rentan, mengidentifikasi dan menghitung jumlah penduduk yang berisiko, mengidentifikasi sumber daya yang tersedia untuk melaksanakan langkah-langkah kesiapsiagaan. Selain itu, menyusun peta evakuasi yang mudah dipahami, melaksanakan kegiatan sosialisasi, peningkatan kesadaran, dan edukasi, serta memastikan adanya rencana respons lokal dan mekanisme cadangan untuk menerima dan menyebarluaskan peringatan tsunami kepada penduduk. Dengan demikian Tsunami Ready melampaui sekadar pemberian pengakuan. Hal ini menyediakan kerangka kerja bagi masyarakat untuk mengidentifikasi kesenjangan, memperkuat kapasitas, serta terus meningkatkan mekanisme kesiapsiagaan dan tanggapan mereka. Kesiapsiagaan menghadapi tsunami memerlukan kerja sama erat antara lembaga ilmiah, otoritas nasional dan daerah, serta masyarakat, termasuk koordinasi dan kerja sama internasional. Lokakarya ini diselenggarakan bersama oleh US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), NOAA International Tsunami Information Centre (ITIC), Ecuador Naval Oceanographic and Antarctic Institute (INOCAR), Permanent Commission for the South Pacific (CPPS), dan Sekretariat Nasional Manajemen Risiko Ekuador, bersama IOC-UNESCO. Para pelatih terdiri dari para ahli dari organisasi-organisasi tersebut serta pakar tsunami internasional dan Ekuador lainnya. Kerja sama ini membantu memperkuat mekanisme pencegahan dan pengelolaan risiko serta mendorong lebih banyak masyarakat pesisir untuk mempelajari, menerapkan, dan mempertahankan langkah-langkah kesiapsiagaan, mitigasi, dan evakuasi. Bagi IOC, kerja sama regional sangat penting dalam menghadapi ancaman yang melampaui batas negara. Pertukaran pengalaman antarnegara peserta memberikan wawasan mengenai berbagai pendekatan dalam menerapkan program "Tsunami Ready" serta memperkuat kapasitas lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas kesiapsiagaan dan tanggapan. Lokakarya ini secara khusus berkontribusi pada penguatan keberlanjutan program, serta mekanisme untuk memelihara dan meningkatkan kesadaran dan tingkat kesiapsiagaan masyarakat.