Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

Kondisi Gunung Anak Krakatau pada tahun 2013 sebelum runtuh pada 2018. GAMBAR: BRIN

Darilaut – Perjalanan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami perubahan besar pada 22 Desember 2018. Sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.

Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.

Keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas berubah cepat dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif. Interaksi kembali antara magma dan air laut juga membentuk ulang morfologi kawah Anak Krakatau.

“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar,” kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9).

Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya.”

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terpantau dari pesawat Grand Caravan Susi Air pada Minggu 23 Desember 2018. FOTO: SUSI AIR

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.

Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.

“Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali,” ujar Dini seperti dikutip dari Brin.go.id.

Menurut Dini, aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps.

Gambar ini menunjukkan kondisi Gunung Anak Krakatau pada tahun 2013, 2019, 2020, dan 2021. Kerucut yang relatif tinggi sebelum keruntuhan berubah menjadi bentuk lebih rendah dan terbuka pada 2019, kemudian mulai mengalami pembangunan kembali akibat aktivitas berikutnya. GAMBAR: BRIN

Temperatur Magma

Temperatur magma Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai 916–1.034°C, secara umum lebih tinggi dibandingkan Old dan Young Krakatau. Krakatau memiliki karakter pembentukan kaldera yang berulang.

Berdasarkan hasil tersebut, model sistem magma plumbing menunjukkan bahwa Old dan Young Krakatau memiliki sistem magma yang relatif dangkal, teroksidasi, dan lebih dingin.

Anak Krakatau menunjukkan karakter magma yang lebih dalam, panas, dan tereduksi, menurut peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama, dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9).

Adapun tekanan penyimpanan magma Gunung Anak Krakatau 185–665 MPa, diperkirakan berkaitan dengan kedalaman sekitar 7,4–26,6 kilometer.

Pada Old Krakatau, tekanan penyimpanan magma diperkirakan sekitar 14–72 MPa, setara dengan kedalaman sekitar 0,6–2,9 kilometer. Young Krakatau berada pada kisaran 26–84 MPa atau sekitar 1,1–3,4 kilometer.

Melalui pengukuran sifat kemagnetan batuan pada Anak Krakatau memiliki nilai magnetic susceptibility tertinggi, yang berkaitan dengan dominasi titanomagnetite kaya besi.

Sementara itu, Old Krakatau menunjukkan medan saturasi yang lebih tinggi, yang mencerminkan mineral magnetik yang lebih heterogen.

Exit mobile version