Ada tiga pilihan yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Mengingat kondisi di lapangan, Aceh yang paling terdampak dan penempatan mahasiswa PKPA berada di Aceh Tamiang.
PKPA di daerah terdampak bencana memiliki kelebihan karena sejalan dengan visi program studi, yaitu farmasi kegawatdaruratan.
Program ini diharapkan menjadi ciri khas lulusan apoteker UNG yang tanggap di wilayah-wilayah tidak hanya dalam kondisi normal, tetapi juga saat terjadi bencana alam, bencana sosial, maupun bencana kemanusiaan lainnya.
Kegiatan PKPA terdampak bencana ini juga bekerja sama dengan Apoteker Tanggap Bencana. Program tersebut direncanakan berlangsung selama satu bulan dengan skema dua jenis PKPA.
“Kalau reguler PKPA puskesmas itu satu bulan, tetapi di lokasi terdampak itu dua minggu. Kemudian ada juga PKPA distribusi di gudang farmasi atau instalasi farmasi di Aceh Tamiang selama dua minggu. Jadi dalam satu bulan ada dua PKPA untuk program terdampak,” katanya.
Rektor Universitas Negeri Gorontalo Prof. Dr. Eduart Wolok, menyampaikan doa dan harapan agar seluruh mahasiswa diberikan kesehatan dan kelancaran studi hingga selesai dengan hasil terbaik.
“Hari ini kita akan melepas mahasiswa program studi profesi apoteker untuk melaksanakan PKPA, ada yang di dalam daerah dan ada yang di luar daerah. Semuanya merupakan bagian dari proses pembelajaran,” ujar Rektor.




