Darilaut – Potensi hujan pada 28 – 30 April 2026 umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau untuk mewaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini di Bengkulu, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, kata Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
Pada periode 1 – 4 Mei 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini di Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
BMKG juga mencatat dalam beberapa hari terakhir, terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 24 – 26 April 2026.
Curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat terpantau di wilayah Papua Selatan (112.6 mm/hari), Nusa Tenggara Barat (70.5 mm/hari), Sumatra Barat (63.4 mm/hari), Bangka Belitung (63.1 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (56.5 mm/hari), Papua Tengah (54.1 mm/hari), dan Sulawesi Selatan (50.4 mm/hari).
Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang secara spasial berpengaruh di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, sirkulasi siklonik di perairan dan pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Barat juga memicu terbentuknya daerah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi yang meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di sekitar wilayah yang terdampak pola angin tersebut.
Lebih jauh lagi, pemanasan permukaan yang cukup hangat pada siang hari serta kelembaban udara yang masih cukup basah di lapisan bawah turut mendukung terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lokal dengan waktu singkat.
Suhu Terik
Meskipun hujan masih turun di sebagian wilayah Indonesia, menurut BMKG, kondisi suhu yang panas dan terik juga dilaporkan di sejumlah wilayah.
Suhu maksimum harian signifikan tercatat di wilayah Kalimantan Barat (37.0°C), Sumatra Utara (36.3°C), Sulawesi Tengah (36.2°C), Banten (36.0°C), Kalimantan Tengah (36.0°C), Bengkulu (35.8°C), Lampung (35.5°C), dan Kalimantan Selatan (35.3 °C). Kondisi suhu panas dan terik pada siang hari tersebut secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya posisi semu matahari yang berada di sekitar khatulistiwa, sehingga intensitas radiasi matahari berada pada kondisi signifikan di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, kurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari serta dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat relatif kering turut memicu kurangnya pembentukan awan di wilayah selatan khatulistiwa, sehingga penyinaran permukaan bumi menjadi sangat intensif.
