Darilaut – Wisuda ke-56 menjadi bukti konsistensi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional, sejalan dengan visi kampus kerakyatan menuju universitas unggul dan berdaya saing.
Hal ini dikatakan Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, saat menyampaikan sambutan dalam Sidang Terbuka Senat wisuda ke-56 di auditorium UNG, Kamis (21/8).
Dalam acara ini, UNG secara resmi mengukuhkan sebanyak 700 wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan, meliputi program Sarjana (S1), Profesi, Magister (S2), dan Doktor (S3).
Rektor menyampaikan rasa bangga atas capaian para lulusan. Pencapaian gelar sarjana, kata Rektor, bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Menurut Prof. Eduart, gelar yang disandang para lulusan harus dibarengi dengan integritas, kecerdasan, serta kepedulian sosial.
Gelar ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tunjukkan bahwa Anda adalah lulusan yang memiliki integritas, kompetensi, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa, ujar Eduart.
Salah satu wisudawan terbaik, Nurlia Herman, mengatakan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tidak akan mungkin tercapai tanpa dukungan berbagai pihak. Untuk itu, Nurlia menyampaikan terima kasih atas dukungan, bimbingan serta pengabdian tulus para dosen UNG.
“Terima kasih karena telah membuka jalan, membimbing dengan sabar dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh dan bermimpi lebih tinggi. Kesuksesan ini bukan hanya milik kami sebagai wisudawan, tetapi juga buah doa dan dukungan keluarga serta bimbingan dosen,” ujarnya.
Nurlia adalah putri seorang penjual bensin eceran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, sebuah pencapaian yang mungkin dulu terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Lahir dari keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai penjual bahan bahan bakar eceran, sementara ibunya setia menjaga rumah serta mendoakan anak-anaknya.
“Dari mereka, saya belajar arti kerja keras, kejujuran, dan keteguhan hati. Dengan kondisi ini, saya tidak hanya berjuang dalam akademik sebagai mahasiswa UNG, namun juga berjuang menepis keterbatasan,” ujarnya.
Perjalanan menuju toga sarjana bukan perkara mudah. Di balik peluh ayahnya yang berjuang mencari nafkah dan doa ibu yang tak pernah putus, ia menapaki jalan pendidikan dengan penuh keyakinan.
Nurlia menanam dalam dirinya sebuah harapan besar: bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
“Dengan keterbatasan ekonomi, saya ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhanapun bisa berdiri sejajar bahkan menjadi yang terbaik jika dibarengi dengan tekad dan doa,” ujarnya
Nurlia tidak hanya bertahan, tetapi juga mencetak prestasi gemilang. Prestasinya, antara lain, pernah tampil sebagai presenter dalam International Conference on Education, meraih juara dua pada ajang Peksiminas tingkat UNG, hingga akhirnya terpilih sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92.
Keberasilan menempuh pendidikan di perguruan tinggi juga tidak lepas dari bantuan beasiswa KIP-K. ”Bagi saya beasiswa tersebut bukan hanya menjadi penopang bagi perjalanan pendidikannya, namun juga menjadi cahaya harapan hingga membawa dirinya sampai pada titik ini,” kata Nurlia.
