World Tsunami Awareness Day: Kisah-kisah Pembelajaran Menghadapi Tsunami

Pelabuhan Wani di Sulawesi Tengah, setelah terjadi gempabumi dan tsunami 28 September 2018. FOTO: VERRIANTO MADJOWA/DARILAUT.ID

Darilaut – Tsunami jarang terjadi. Namun, hanya dalam hitungan menit dapat mencapai pesisir, setelah gempa bumi atau gangguan mendadak lainnya.

Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day) diperingati setiap tanggal 5 November.

Menurut United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) atau Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, tekadang tsunami datang lebih cepat sebelum peringatan resmi dikeluarkan.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat serta tindakan yang mereka ambil pada menit-menit awal tersebut sering kali menjadi penentu siapa yang akan selamat.

Inilah gagasan di balik tema Hari Kesadaran Tsunami Sedunia tahun ini, “Siap Menghadapi Tsunami: Ketangguhan Dimulai dari Anda”.

Sistem peringatan dini tsunami telah mengalami perubahan besar sejak tahun 2004. Jaringan regional kini mampu mendeteksi ancaman dan mengeluarkan peringatan di setiap cekungan samudra utama.

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif “Peringatan Dini untuk Semua” (Early Warnings for All) dari Sekretaris Jenderal PBB telah memperluas jangkauan sistem peringatan untuk berbagai jenis bahaya.

Namun, sebuah peringatan tetap harus sampai kepada seseorang yang memahaminya dan mampu menindaklanjutinya—baik itu pengemudi yang mendengar bunyi sirene maupun seorang anak yang membawa peta evakuasi.

Sembilan kisah di bawah ini mencakup rentang waktu lebih dari 170 tahun. Dalam setiap kisah, terdapat langkah yang telah disiapkan jauh sebelum gelombang datang—seperti sistem peringatan, latihan evakuasi di sekolah, atau cerita yang diwariskan secara turun-temurun—yang membantu masyarakat mencapai tempat aman atau mempersiapkan generasi mendatang untuk melakukan hal yang sama.

1. Panen padi yang dibakar menyelamatkan sebuah desa di Jepang pada tahun 1854 – dan menjadi dasar penetapan tanggal Hari Kesadaran Tsunami Sedunia, 5 November.

Selama peristiwa tsunami Ansei-Nankai tahun 1854—yang menelan sekitar 3.000 korban jiwa di sepanjang pesisir Jepang bagian barat—Hamaguchi Goryo, seorang pemimpin desa yang mengenali tanda-tanda bahaya, membakar tumpukan padi hasil panennya di atas bukit.

Penduduk desa bergegas naik ke bukit untuk memadamkan api, dan dengan demikian mereka berada di tempat yang lebih tinggi saat gelombang tsunami menghancurkan desa di bawahnya. Kisah ini, yang dikenal sebagai Inamura no Hi atau “api dari tumpukan padi”, kini digunakan secara luas di seluruh dunia untuk mengajarkan kesiapsiagaan tsunami.

Tanggal terjadinya tsunami tersebut, yakni 5 November, kini diperingati setiap tahun sebagai Hari Kesadaran Tsunami Sedunia.

2. Seorang pengemudi dengan sirene berhasil mengevakuasi warga di sepanjang pesisir Tonga tepat pada waktunya

Saat gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha’apai meletus pada 15 Januari 2022 dan memicu tsunami yang mengarah ke Tonga, seorang pengemudi dari Kantor Manajemen Darurat bernama Li’oa segera masuk ke kendaraannya, menyalakan sirene, dan meminta warga untuk menjauh dari pesisir.

Empat orang meninggal dunia dalam tsunami Tonga tersebut, yang menghasilkan gelombang setinggi 20 meter. Peringatan dini yang cepat serta kesiapsiagaan penduduk yang memahami langkah yang harus diambil berhasil menjaga jumlah korban tetap rendah.

Kisah Li’oa, yang diterbitkan dalam buku cerita tsunami untuk anak-anak oleh UNDP, menunjukkan bahwa tahap akhir dari sistem peringatan dini sering kali bergantung pada seseorang yang bersedia menyampaikan pesan tersebut.

3. Para siswa di Kamaishi tahu ke mana harus berlari. Ketika tsunami besar melanda Jepang Timur pada Maret 2011, sebanyak 99,8 persen siswa sekolah di Kamaishi, Prefektur Iwate, berhasil selamat. Sejak tahun 2006, Profesor Toshitaka Katada telah bekerja sama dengan sekolah-sekolah setempat untuk menyusun prinsip-prinsip evakuasi sederhana.

Setiap anak membuat peta evakuasi pribadi yang menunjukkan lokasi rumah mereka, rute menuju sekolah, dan area evakuasi terdekat. Setelah lima tahun berlatih, anak-anak tersebut memahami apa yang harus dilakukan dan mampu bertindak secara mandiri saat bencana benar-benar terjadi.

4. Sistem peringatan tsunami Pasifik terbukti efektif saat Kamchatka diguncang gempa pada tahun 2025. Ketika gempa berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang wilayah lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada Juli 2025, peringatan tsunami segera disebarkan ke seluruh wilayah Pasifik dalam hitungan menit.

Peringatan tsunami gempa bumi Magnitudo (M) 8,7 di Kamchatka Rusia, Rabu (30/7). GAMBAR: BMKG

Lebih dari 1,9 juta orang di Jepang melakukan evakuasi, diikuti oleh sekitar 2.700 orang lainnya di wilayah Sakhalin, Rusia. Sistem Peringatan dan Mitigasi Tsunami Pasifik, yang telah beroperasi sejak 1965, berhasil mendeteksi ancaman tersebut.

Sirene di sepanjang pesisir, peringatan melalui pesan singkat massal, serta latihan evakuasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun melengkapi upaya penyelamatan tersebut.

5. Penduduk Pulau Simeulue segera berlari ke tempat yang lebih tinggi begitu guncangan berhenti. Pada 26 Desember 2004, penduduk Simeulue—pulau berpenghuni yang paling dekat dengan pusat gempa—segera bergegas menuju dataran yang lebih tinggi.

Dari puluhan ribu penduduk pulau tersebut, hanya tujuh orang yang meninggal dunia. Mereka bertindak berdasarkan konsep smong —sebuah istilah yang diwariskan secara turun-temurun melalui lagu pengantar tidur dan cerita rakyat sejak tsunami melanda Simeulue pada tahun 1907.

Istilah ini merujuk pada seluruh rangkaian peristiwa: gempa bumi, surutnya air laut, dan gelombang raksasa yang menyusul kemudian.

6. Seorang anggota komunitas pengembara laut Moken memberikan peringatan saat suara tonggeret tiba-tiba senyap. Pada pagi hari yang sama, seorang anggota komunitas pengembara laut Moken di Laut Andaman, Asia Tenggara, menyadari bahwa suara tonggeret (serangga) tiba-tiba menghilang dan segera memperingatkan orang-orang di sekitarnya untuk berpindah ke tempat aman.

Komunitas Moken berhasil menyelamatkan diri dan turut memberi peringatan kepada para wisatawan di pantai sekitar. Legenda mereka mengenai laboon —atau “gelombang pemakan manusia”—menyebutkan bahwa air laut akan surut dan suara tonggeret akan senyap sebelum gelombang tersebut datang. Pengetahuan semacam ini jarang didokumentasikan secara tertulis, sehingga rentan untuk hilang.

7. Para siswa di Samoa berlatih evakuasi yang dibutuhkan oleh komunitas mereka. Pada Oktober 2017, 1.400 siswa dan guru dari enam sekolah yang pernah terdampak tsunami tahun 2009 mengikuti latihan evakuasi serentak—latihan berskala besar pertama yang pernah diadakan di Samoa.

Pada tahun 2009, gelombang tsunami mencapai pesisir hanya dalam hitungan menit setelah gempa bumi terjadi di lepas pantai, sehingga banyak orang tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri.

Kantor Manajemen Bencana Samoa menyatakan bahwa latihan kesiapsiagaan akan terus berlanjut, dengan peta jalan peringatan dini untuk berbagai jenis bencana (Multi-hazard Early Warnings for All Roadmap) yang kini mencakup rencana sepuluh tahun hingga 2036.

8. Para penyintas di Jepang terus membagikan kisah mereka agar pelajaran dari tahun 2011 tetap diingat. Di wilayah timur laut Jepang, para penyintas yang dikenal sebagai kataribe berbagi pengalaman mengenai peristiwa tahun 2011 kepada pengunjung dan generasi muda di lebih dari 300 lokasi peringatan yang terhubung melalui jaringan 3.11 Densho Road.

Di Yamamoto, Prefektur Miyagi, inisiatif “Hidup adalah Sebuah Keajaiban” (Life is a Miracle) menggunakan sepeda motor milik seorang penyintas—yang sempat terbawa arus laut hingga ke Haida Gwaii, Kanada—sebagai sarana untuk memulai percakapan tentang kehilangan dan kesiapsiagaan. Sejak tahun 2024, Jepang secara resmi mengakui program penuturan kisah, situs peringatan, dan upaya serupa sebagai aset nasional untuk pencegahan bencana.

9. Seorang anak berusia sepuluh tahun mengingat pelajaran geografi dan berhasil mengosongkan pantai. Pada 26 Desember 2004, Tilly Smith yang saat itu berusia sepuluh tahun sedang berlibur bersama keluarganya di Pantai Mai Khao, Phuket, Thailand.

Ia menyadari air laut yang tiba-tiba meluap dan berbuih—tanda-tanda bahaya yang ia kenali dari pelajaran geografi dua minggu sebelumnya. Ia segera memberi tahu orang tuanya dan staf hotel, yang kemudian mengevakuasi orang-orang dari pantai sebelum gelombang datang. Sekitar 100 orang selamat berkat pelajaran tersebut.

Bila gempa terasa lebih dari 20 detik, segera evakuasi menjauhi pantai atau ke tempat lebih tinggi. FOTO: DARILAUT.ID

Setiap tindakan cepat tanggap ini bermula jauh sebelum laut bergejolak—bisa melalui pelajaran geografi, senandung pengantar tidur dari seorang nenek, bunyi sirene yang mudah dijangkau, atau sistem peringatan yang didanai oleh pihak tertentu.

Kesiapsiagaan dibangun selama bertahun-tahun bahkan berdekade-dekade di antara peristiwa-peristiwa ekstrem, oleh orang-orang yang meyakini bahwa bencana yang mungkin terjadi di masa depan layak untuk diantisipasi sejak dini.

Exit mobile version