Darilaut – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak awal September 2026 telah menyebabkan penyebaran abu vulkanik dan memengaruhi aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus menyampaikan perkembangan aktivitas gunung api tersebut hingga 11 September 2026.
Meskipun aktivitas sehari-hari masyarakat mulai berjalan, debu vulkanik masih ditemukan di sekitar permukiman dan jalanan. Debu yang telah mengendap juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terangkat oleh kendaraan yang melintas.
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Bumi Tangguh (YBT) menyalurkan sebanyak 5.000 masker kepada masyarakat terdampak di Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Ketua Yayasan Bumi Tangguh, Dennie Mamonto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen YBT untuk melindungi masyarakat dan memperkuat ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana.
“Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu misi Yayasan Bumi Tangguh, yaitu berperan aktif dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana untuk memperkuat ketangguhan masyarakat,” ujar Dennie.




