Darilaut – Akhir Oktober dan memasuki awal November, potensi hujan meningkat di tengah kondisi panas dan kering. Kendati kekeringan masih melanda, cuaca ekstrem berupa hujan lebat tetap membayangi sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan lebat hingga sangat lebat melanda Sumatera Utara (131,0 mm/hari), Sumatera Barat (97,0 mm/hari), Aceh (75,0 mm/hari), Kalimantan Barat (65,0 mm/hari), dan NTB (55,0 mm/hari).
Ketersediaan uap air yang melimpah akibat kehangatan suhu muka laut, ditambah pertemuan angin serta aktifnya fenomena MJO serta Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan MRG, menjadi faktor utama yang memicu hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Prediksi BMKG untuk Dasarian I November 2026 mengindikasikan bahwa mayoritas wilayah Indonesia didominasi oleh presipitasi kategori menengah (50–100 mm/dasarian) sebesar 67,62%, disusul kategori rendah (0–50 mm/dasarian) sebesar 30,57%, dan kategori tinggi (150–300 mm/dasarian) sebesar 1,81%.
Presipitasi rendah terkonsentrasi di Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian kawasan Sulawesi dan Maluku, kata Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
Kendati akumulasi dasarian berada pada rentang rendah hingga menengah, dinamika atmosfer berpeluang memicu pembentukan awan konvektif. Dalam sepekan ke depan, penjalaran Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia, sedangkan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di bagian timur.




