Darilaut – Sedikitnya 111 orang tewas akibat topan Freddy yang membawa hujan lebat dan angin kencang di Malawi, wilayah bagian selatan Afrika, sejak 12 Maret.
Mengutip Reliefweb.int Selasa (14/3) Presiden Malawi telah mengumumkan Keadaan Bencana di Wilayah Selatan, khususnya Kota dan Distrik Blantyre, Distrik Chikwawa, Distrik Chiradzulu, Distrik Mulanje, Distrik Mwanza, Distrik Neno, Distrik Nsanje, Distrik Phalombe, Distrik Thyolo, dan Kota Zomba.
Selain korban tewas, menurut Departemen Urusan Manajemen Bencana (DoDMA) Malawi, sebanyak 16 orang dilaporkan hilang setelah hujan lebat dan angin kencang yang dihubungkan dengan sistem cuaca Freddy tersebut.
Dari 111 korban, sebanyak 85 tewas karena tanah longsor di kotapraja Cilobwe di distrik Blantyre.
Sekitar 19.000 orang (4.000 rumah tangga) telah mengungsi di distrik yang paling terpukul (Nsanje (sekitar 5.850 orang), Chikwawa (5.004), Mulanje (3.659), Thyolo (2.390) Kota dan Distrik Blantyre (1.647), Chiradzulu (765).
Sementara di Mwanza, Neno dan Phalombe data belum tersedia.
Ketinggian air di daerah sekitar Sungai Shire dan Sungai Thuchila sudah mulai naik yang dapat menyebabkan banjir.
Akumulasi curah hujan di Malawi selatan bisa mencapai 400mm hingga 500mm dalam waktu 72 jam.
Kementerian Pendidikan untuk sementara menangguhkan kelas di 10 distrik berisiko pada 13 dan 14 Maret.
Layanan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menjelaskan badai terus memecahkan rekor sebagai sistem cuaca tropis terlama di belahan bumi selatan.
Rumah telah hancur, layanan dan mata pencaharian telah terpengaruh. Ribuan orang mencari perlindungan di pusat-pusat penampungan sementara, kata OCHA.
Freddy juga mempengaruhi negara tetangga Malawi, di mana hujan lebat dan angin kencang menyebabkan tanah longsor, merusak rumah dan infrastruktur publik.
Malawi juga menghadapi wabah kolera.
PBB dan mitra kemanusiaan bekerja sama dengan Pemerintah untuk menanggapi Freddy dan kolera.
Sumber: Reliefweb.int dan OCHA
