Darilaut – Lebih dari 4 Juta pelajar, 156 ribu guru dan personel non-pengajar terdampak gempa Sarangani dan gempa susulan di Filipina Selatan. Penilaian awal lebih dari 1.000 ruang kelas mengalami kerusakan ringan hingga total.
Melansir Kantor Berita Filipina, Philippine News Agency (PNA), Departemen Pendidikan (DepEd) Filipina, pada hari Selasa (9/6) mengatakan lebih dari 4 juta pelajar terdampak akibat gempa bumi magnitudo 7,8 dan gempa susulan di beberapa bagian Mindanao.
Dalam wawancara teleradio, Wakil Menteri Operasi DepEd Malcolm Garma mengatakan lebih dari 100.000 guru dan personel non-pengajar juga terdampak.
“Lebih dari 4 juta siswa kita yang terdampak. Ketika kita mengatakan terdampak, mereka mungkin terdampak bukan di sekolah tetapi bahkan di rumah mereka, rumah mereka terdampak. Dan juga, sekitar 156.000 tenaga pengajar dan non-pengajar,” katanya.
Beberapa dilaporkan kehilangan kesadaran selama kejadian tersebut “karena takut atau panik,” sementara laporan korban jiwa dan luka ringan masih menunggu validasi.
“Kami sudah mendapat laporan bahwa ada seorang siswa yang menjadi korban, tetapi bukan di sekolah. Saya pikir korban tanah longsor di beberapa daerah di Sarangani, kita belum bisa mengidentifikasinya secara pasti,” kata Garma.
Pejabat pendidikan itu mengatakan keselamatan dan mental siswa harus diprioritaskan sebelum dimulainya kembali kelas. Yang pertama dan terpenting di sini adalah trauma anak-anak, ini yang diprioritaskan.
Untuk sekolah yang rusak, metode penyampaian alternatif (ADM) pembelajaran akan diterapkan pada jangka waktu yang sesuai.
Sekolah juga dapat memilih kelas tambahan jika ADM (Academic Development Measures) tidak berlaku karena tidak tersedianya listrik, air, dan internet.
Berdasarkan penilaian cepat lembaga tersebut, lebih dari 1.000 ruang kelas mengalami kerusakan ringan hingga total.
Pada hari Senin, sebuah video bangunan sekolah yang runtuh di Sekolah Menengah Atas Nasional Matanao menjadi viral di internet saat gempa dahsyat mengguncang sebagian Mindanao.
“Bangunan itu sudah dinyatakan tidak layak huni, makanya tidak ada yang menggunakannya. Berdasarkan laporan, tidak ada siswa di dalam bangunan itu,” kata Garma.
Menurut Garma, infrastruktur sekolah yang mengalami kerusakan besar atau total sudah memiliki “integritas struktural yang terganggu” dan akan dibongkar.
Sementara itu, Garma mengakui kesiapan para guru sekolah negeri karena mereka memprioritaskan keselamatan siswa selama gempa bumi.
Menteri Pendidikan Filipina Sonny Angara menyampaikan pesan sambil mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru atas tindakan protektifnya.
“Terima kasih banyak kepada guru-guru kami yang merupakan pahlawan sejati, dan naluri mereka adalah mengutamakan kesejahteraan anak-anak,” kata Garma.
