Darilaut – Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance – AMR) termasuk salah satu ancaman kesehatan global terbesar.
Jika tidak ditangani dengan baik, resistensi antimikroba akan berdampak sangat buruk terhadap masyarakat dan perekonomian.
Berikut ini lima penyebab utama penyebaran resistensi antimikroba, menurut Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
Pertama, penyalahgunaan antibiotik
Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan munculnya strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Orang dapat menyalahgunakan antibiotik dengan tidak menyelesaikan antibiotik yang diresepkan, menggunakan dosis yang salah, atau diberi resep antibiotik yang tidak diperlukan.
Pendekatan yang serampangan ini, ditambah dengan pembuangan obat yang tidak tepat, memungkinkan bakteri yang resisten untuk berkembang, berkembang biak, dan berpotensi mengarah pada berkembangnya bakteri super yang sulit, bahkan tidak mungkin, diobati dengan antibiotik yang ada.
Penyalahgunaan antimikroba di sektor peternakan, akuakultur, hewan pendamping, dan produksi tanaman juga menjadi perhatian utama dengan risiko berkembang dan menyebarnya mikroorganisme yang resisten terhadap antimikroba.
Kedua, kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi
Kemiskinan, kurangnya air bersih dan sanitasi yang baik akan memperburuk AMR. Masyarakat yang tinggal di daerah dengan akses terbatas terhadap air, sanitasi dan kebersihan mempunyai risiko lebih besar untuk bersentuhan dengan air yang terkontaminasi yang dapat membawa berbagai patogen, termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Hewan juga lebih rentan terhadap penyakit jika kondisi kebersihannya buruk.
AMR memperburuk kesenjangan dalam masyarakat. Kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, migran, pengungsi, dan mereka yang tinggal di permukiman informal, sangat rentan terhadap infeksi yang resistan terhadap obat dan mungkin kurang memiliki akses terhadap sistem kesehatan. Limbah yang tidak terkontrol dan tidak diolah memperburuk masalah ini.
Ketiga, polusi dari perusahaan farmasi dan pertanian
Polusi dari manufaktur farmasi, peternakan, budidaya perikanan, produksi tanaman intensif dan sektor kesehatan merupakan pendorong utama AMR.
Meskipun industri farmasi telah membantu meningkatkan kesehatan masyarakat, limbah dari pabrik pembuatan obat yang tidak diolah atau diolah secara tidak memadai sering kali berakhir di lingkungan, sehingga berkontribusi terhadap penumpukan mikroba yang resistan terhadap obat.
Pembuangan obat-obatan yang tidak terpakai dan kadaluwarsa secara tidak tepat juga memicu penyebaran AMR.
Penggunaan obat-obatan yang berlebihan di bidang pertanian masih menjadi kekhawatiran karena para petani di seluruh dunia terus bergantung pada antimikroba. Termasuk untuk menjaga kesehatan hewan dan, dalam beberapa kasus, mendorong pertumbuhan mereka.
Sementara itu, hingga 75 persen antibiotik yang digunakan dalam budidaya perairan mungkin hilang ke lingkungan sekitar. Fungisida, antibiotik, dan bahan kimia lain yang digunakan pada tanaman biasanya diterapkan langsung ke lingkungan dan dapat mengakibatkan konsentrasi polutan lokal yang lebih tinggi yang berdampak pada resistensi antimikroba.
Keempat, pergerakan massal orang
Globalisasi yang pesat telah mengakibatkan meningkatnya jumlah orang dan barang yang bergerak melintasi batas negara. Pada tahun 2019 saja, tercatat 4,5 miliar orang melakukan perjalanan melalui udara.
Perpindahan manusia dalam jumlah besar dapat berkontribusi terhadap beban resistensi antimikroba dengan membiarkan mikroorganisme yang resisten berpindah dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya.
Penelitian telah menunjukkan bahwa bakteri resisten antimikroba yang dibawa oleh manusia dapat bertahan hingga 12 bulan setelah perjalanan, sehingga semakin berkontribusi terhadap risiko penularan AMR.
Yang lebih rumit lagi, menurut Badan Pengungsi PBB, saat ini terdapat 110 juta orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia. Banyak dari mereka tidak memiliki akses terhadap hak-hak dasar termasuk perumahan yang layak, layanan kesehatan, air dan sanitasi, yang merupakan faktor-faktor yang meningkatkan penyebaran AMR.
Kelima, perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati
Krisis iklim memperburuk resistensi antimikroba. Peristiwa cuaca ekstrem, seperti banjir dan kenaikan suhu, membantu memperbanyak mikroba di lingkungan. Banjir dapat menyebabkan air limbah dan limbah yang penuh dengan mikroba resisten antimikroba memenuhi instalasi pengolahan dan mencemari area sekitarnya.
Hilangnya keanekaragaman hayati memperburuk AMR karena berkurangnya kekayaan spesies tanaman yang mungkin merupakan kunci obat-obatan yang dapat mengobati infeksi yang kini kebal terhadap obat-obatan.
