Menurut Neni, setelah 5 Desember, narasi positif mulai menyalip, didorong oleh publikasi masif mengenai penyaluran bantuan dan upaya pemulihan.
Namun, ”muncul anomali pada 19 Desember, di mana sentimen negatif kembali melonjak tajam,” ujar Neni, seperti disampaikan dalam rilis Kamis (25/12).
Hal ini disebabkan banyak pemberitaan mengenai belum meratanya bantuan dan update keadaan korban terutama di wilayah yang paling terisolir, kata Neni.
DIR mencatat total media coverage dengan topik “Banjir Sumatra dan Aceh” mencapai 30.489 yang tersebar di 16.233 media lokal, 14.207 media nasional dan 49 media internasional. Kompas.com, tempo.com dan detik.com menjadi media teratas paling banyak memberitakan, serta media lainnya yang memberitakan topik ini baik dengan tone positif, netral, maupun negatif selama masa pemantauan pada 25 November 2025 hingga 24 Desember 2025.
Sementara itu, di ranah media sosial, tercatat sebanyak lebih dari 55.600 lebih unggahan dari 28.100 netizen, yang menghasilkan volume percakapan (total talk) mencapai lebih dari dua juta percakapan atau interaksi. Ini merefleksikan bahwa satu isu bencana mampu memicu diskusi berkelanjutan secara organik dan memiliki resonansi emosional yang kuat.
“Interaksi tertinggi ada di platform Instagram dan Tiktok. Interaksi di Tiktok mencapai 939.289 dan pada Instagram 909.837 intensitas percakapan,” kata Neni.




