Darilaut – Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Eduart Wolok, menyoroti dampak eksploitasi sumber daya alam terhadap lingkungan di Gorontalo dan pentingnya posisi kampus dalam pengambilan keputusan strategis.
Hal ini disampaikan Prof. Eduart dalam Forum Rektor: Kolaborasi Nasional dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang digelar di Jakarta, pada Senin (28/7). Forum Rektor/Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) tersebut, dihadiri 41 rektor dari tujuh wilayah regional Indonesia.
Di Provinsi Gorontalo, menurut Rektor UNG, tingginya frekuensi banjir tercatat sejak tahun 2006.
Tahun 2006 terjadi banjir besar di Gorontalo, “siklus tahunan, kata para tetua di Gorontalo banjir bandang seperti itu kurun waktu 25 tahunan,” kata Prof. Eduart, namun, “data hari ini sejak tahun 2006 hingga 2025 telah terjadi 208 kejadian banjir di Gorontalo dengan total korban jiwa, 32 orang meninggal, 8 hilang, 12.095 luka luka, 101.345 harus mengungsi dan kerusakan berat terhadap lahan itu 5.444 hektare.”
Prof. Eduart menyoroti lemahnya implementasi hasil kajian akademik dalam kebijakan publik di daerah. Ini menjadi isu penting dikarenakan saat ini Sulawesi mengalami peningkatan eksploitasi sumber daya.




