Analisis Kesehatan WHO-WMO Menghadapi El Niño: Panas Ekstrem dan Curah Hujan Meningkatkan Penyebaran Penyakit

Gigitan nyamuk. FOTO: KEMKES.GO.ID

Darilaut – Menghadapi El Niño sangat kuat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan masukan dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah menerbitkan laporan terbaru berjudul Global Public Health Situation Analysis – El Niño 2026 atau Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat Global – El Niño 2026.

Suhu panas ekstrem hanyalah salah satu risiko yang dikaji dalam laporan baru tersebut. Analisis tersebut menyoroti risiko spesifik di tingkat negara dan kawasan dengan memanfaatkan prakiraan cuaca WMO.

Tujuannya membantu otoritas kesehatan mengantisipasi lokasi dan waktu terjadinya dampak terparah, serta menentukan cara mengelola risiko tersebut melalui penguatan sistem surveilans penyakit dan respons cepat.

“Ini bukan sekadar persoalan suhu panas. Prakiraan iklim musiman WMO untuk periode September hingga November menunjukkan adanya curah hujan di atas normal di beberapa wilayah dan risiko kekeringan di wilayah lain,” ujar Armel Castellan, Penasihat bidang Suhu Panas Ekstrem pada Program Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO.

Hal ini menempatkan isu ”ketahanan air, gizi, dan penyakit tular vektor sebagai faktor penting yang perlu diperhatikan, di samping faktor suhu.”

Castellan mengatakan prakiraan musiman WMO memberikan waktu persiapan yang sangat berharga. Waktu inilah yang memungkinkan otoritas kesehatan untuk melihat ke depan dan melakukan persiapan, alih-alih sekadar melakukan penanganan setelah masalah terjadi.

”Jika praktisi kesehatan dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat, hal ini bisa menjadi penentu antara hilangnya nyawa atau penyelamatan nyawa,” ujarnya.

Suhu yang lebih hangat dan perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti malaria, demam berdarah, chikungunya, demam kuning, dan Zika.

Di beberapa daerah, penyakit-penyakit ini mungkin menyebar ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdampak, termasuk daerah dataran tinggi.

Malnutrisi dan kolera termasuk dalam masalah yang paling serius dan dinilai sebagai risiko sangat tinggi, baik di wilayah yang terdampak kekeringan maupun banjir.

Saat ini, lebih dari 150 juta orang di seluruh dunia menghadapi kerawanan pangan akut. Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring dengan gangguan terhadap produksi pangan dan mata pencaharian akibat guncangan iklim.

Kepala Unit Pengurangan Risiko, Operasi Kemanusiaan, dan Perubahan Iklim di WHO, Teresa Zakaria, mengatakan, El Niño merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang signifikan, bukan sekadar fenomena iklim.

Fenomena ini bertindak sebagai faktor pengganda risiko, dan kita memperkirakan akan melihat dampaknya terhadap kesehatan di seluruh dunia.

”Namun, dampak paling parah akan dirasakan di wilayah di mana guncangan iklim terjadi bersamaan dengan sistem kesehatan yang lemah, akses layanan kesehatan yang terbatas, kerawanan pangan, pengungsian, serta krisis kemanusiaan,” ujarnya.

Exit mobile version