Darilaut – Untuk pertama kali di Indonesia, penelitian khusus mengenai keberadaan paus pembunuh (killer whales) atau disebut paus orca dilakukan di Teluk Tomini.
Tomini, bagian laut yang menjorok ke darat membentang di tiga provinsi, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Perairan ini sudah lama dikenal sebagai jalur migrasi megafauna laut.
Distribusi paus pembunuh telah dianalisis di sejumlah perairan di dunia, tidak demikian dengan populasi di Indonesia. Tidak diketahui dengan pasti status populasinya.
Spesies ini memiliki perilaku yang berbeda di tempat yang berbeda pula, begitu pula dengan bahasa yang unik di setiap kelompok. Populasi yang berbeda memiliki mangsa yang berbeda.
Studi di Teluk Tomini untuk menyajikan data dasar penelitian ilmiah selanjutnya tentang cetacea di Indonesia, khususnya paus pembunuh.
Hasil penelitian Verrianto Madjowa, Abdul Hafidz Olii, Alfi Sahri Baruadi dan Aziz Salam tersebut, telah diterbitkan di Jurnal Jambura Edu Biosfer, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo, dengan judul “Occurrence and Photo-Identification of Killer Whale in the Gulf of Tomini”.
Pengumpulan data awal dimulai pada bulan Februari 2017, dilanjutkan dengan pelaksanaan kerja lapangan di bulan September 2017 hingga Februari 2019. Lokasi penelitian terletak di sepanjang pantai Provinsi Gorontalo di Teluk Tomini yang berada di dekat garis khatulistiwa, yang diapit semenanjung utara dan timur Pulau Sulawesi.
Artikel ini untuk memperingati Hari Orca Sedunia (World Orca Day). Hari Orca Sedunia diperingati tanggal 14 Juli, setiap tahunnya.
Orca dikenal sebagai predator puncak di lautan. Hewan ikonis ini tidak hanya sangat menarik, akan tetapi memainkan peran penting dalam ekosistem laut.
Keberadaan orca sebagai spesies indikator. Artinya, spesies ini dapat menyampaikan pesan kepada kita tentang banyak hal mengenai kesehatan ekosistem laut.
Orca hidup di perairan kutub di selatan dan utara, hingga daerah tropis, seperti di Teluk Tomini.
Kasimpulan hasil penelitian di Teluk Tomini, kemunculan paus orca hampir merata sepanjang tahun tanpa memandang musim. Paus pembunuh kebanyakan muncul berpasangan dan dalam kelompok hingga lima individu, dengan beberapa pengecualian kemunculan tunggal.
Hasil foto identifikasi yang dihasilkan menampilkan empat individu dari kelompok berbeda. Meskipun terbatas, hasil ini penting sebagai data dasar untuk menarik minat dalam penelitian tentang berbagai aspek paus pembunuh di Indonesia.
Penelitian paus orca di Teluk Tomini dengan tujuan untuk melaporkan kemunculan dan mempresentasikan identifikasi melalui foto dan video paus pembunuh.
Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Tanggal kejadian diurutkan secara kronologis di setiap lokasi.
Penelitian lapangan dilakukan dengan menelusuri lokasi-lokasi yang pernah melaporkan keberadaan paus pembunuh dan wilayah pesisir sekitarnya. Rekaman video dan foto dikumpulkan untuk tujuan identifikasi foto.
Responden ditentukan dengan purposive sampling dan selanjutnya dipilih dengan teknik snow ball sampling. Responden yang diwawancarai tersebar di 14 desa pesisir di Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Responden terdiri dari 38 nelayan dan tujuh pemandu wisata.
Pemilihan lokasi observasi dan wawancara difokuskan pada lokasi kejadian dan aktivitas nelayan: terutama nelayan pelagis dan penjaga rumpon.
Diskusi kelompok dilakukan di sejumlah tempat untuk mengumpulkan data pengetahuan ekologi setempat, serta menggali informasi lebih dalam pengetahuan dan kearifan lokal tentang mamalia laut.
Hasil penelitian ini juga mencatat nelayan Gorontalo tidak memburu cetacea, baik untuk dibunuh, dimakan, maupun dijual. Sebaliknya, mereka cenderung memberikan perlindungan dengan penuh perhatian dan bantuan yang penuh rasa hormat.
Perlindungan juga berlaku untuk lumba-lumba dan ikan hiu paus (Rhincodon typus) yang sering terperangkap pada alat tangkap nelayan.
Sikap konservatif tersebut bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ada beberapa alasan mengapa hewan laut eksotis ini dipercaya dapat dilindungi. Kemunculan cetacea (begitu pula dengan ikan hiu paus) dijadikan sebagai salah satu pertanda munculnya ikan pelagis besar dan kecil.
Lumba-lumba dan paus dipercaya sebagai makhluk yang siap menolong nelayan saat menghadapi musibah di laut. Kisah-kisah tentang nelayan yang terdampar di laut karena ditolong lumba-lumba atau paus masih sering terdengar di desa-desa pesisir.
Hasil penelitian ini mencatat sebanyak 19 kali kejadian paus pembunuh di sepanjang pantai Provinsi Gorontalo.
