Darilaut – Sebaran asap serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih tetao menjadi perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan atmosfer yang relatif kering masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, terutama sebagian Sumatra dan Kalimantan.
Kondisi ini terlihat dari masih tingginya jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi selama 10 hari terakhir, menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
Hingga 21 September 2026, kata BMKG, konsentrasi titik panas tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah sebanyak 5.283 titik, diikuti Sumatra Selatan sebanyak 1.485 titik, Kalimantan Barat 1.357 titik, Kalimantan Selatan 498 titik, dan Kalimantan Timur 433 titik.
Sebaran titik panas cukup tinggi. Laporan kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, antara lain di beberapa wilayah Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Papua Tengah, serta Kepulauan Bangka Belitung.
Di tengah atmosfer yang relatif kering tersebut, hujan dengan intensitas lebat masih terjadi secara lokal di beberapa wilayah Indonesia.
Hujan Lebat
Pada periode 18–20 September 2026, hujan lebat tercatat di Sumatera Barat, sebesar 75 mm/hari, Kalimantan Barat 70 mm/hari, Jawa Barat 58 mm/hari, dan Kalimantan Utara 53 mm/hari.
Kejadian hujan tersebut terjadi karena adanya kombinasi beberapa faktor atmosfer, seperti aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Equatorial Rossby, kondisi suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan, serta terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin di beberapa wilayah Indonesia.
Kombinasi kondisi tersebut meningkatkan ketersediaan uap air dan mendukung proses pengangkatan massa udara, sehingga pertumbuhan awan hujan tetap terjadi di sejumlah wilayah, meskipun kondisi relatif kering masih berlangsung di wilayah lainnya.
